Bab 4: Virus Pelangi

Bab 4: Virus Pelangi

Posted on Posted in Fiksi Remaja

 

Bab 4: Virus Pelangi

Mungkin begini kali ya, rasanya cinta pada pandangan pertama? Tiba-tiba dinding hijau toscha di kamar asrama sudah berganti cat di mataku menjadi merah muda. Wajah Taupan mendadak ada di mana-mana. Sampai wajah kaku Bu Mela saat mengajar Ekonomi pun berubah jadi Taupan.

“Kamu kenapa sih Marsha? Akhir-akhir ini jadi terlihat aneh,” wajah mungil Nafa mendekat ke wajahku dan mengamati dengan seksama.

Aku yang sedang duduk sambil menggoyang-goyangnya tubuh agar tidak mengantuk saat menunggu waktu qomat salat zuhur langsung memalingkan wajah dari Nafa. Aduh, anak ini mengganggu momenku mengintip sosok Taupan yang mungkin terlihat melintas dari sela kain pembatas jamaah saja.

“Ah, enggak. Nggak ada apa-apa. Memang anehnya kenapa?”

“Semacam orang linglung. Terus tahu-tahu senyum sendirian. Padahal nggak ada orang di depan kamu. Are you okay?”

Aku cuma mengangguk-angguk.

“Kamu nggak sedang kesurupan kan?” Nafa masih penasaran.

“Apaah sih? Aku baik-baik saja kok,” sergahku dengan volume suara tinggi lalu tersadar dan segera menutup mulut. Kalau sampai ketahuan berisik, bisa fatal kena catatan guru asrama nantinya.

“Ya kan aku khawatir saja,” bisik Nafa.

Di sekolahku memang sedang musim kesurupan. Dulu, tanah yang sekarang dijadikan sekolahku ini adalah tanah kosong yang penuh dengan semak dan beberapa pohon. Dari hasil dugaan beberapa teman saat ngobrol, konon, sepertinya penunggu tanah ini ngamuk karena rumahnya dipakai untuk membangun sekolah.

“Makanya jangan hobi teriak-teriak dan berisik. Tuh, yang penghuni aslinya jadi ngamuk kan?” tegur Miss Mela saat kami menceritakan tentang kejadian anak lantai tiga yang kesurupan semalam.

Nah, aku jadi ingin tertawa kalau ingat tentang Miss Mela. Ceritanya anak di kamar lantai satu yang akhir-akhir ini juga suka kesurupan, bilang katanya ada sosok seperti Miss Mela yang suka berdiri di dekat wastafel kamarnya. Cuma penampakannya lebih horor. Lidahnya panjang. Matanya merah dan melotot.

Hiy, aku jadi bergidik kalau ingat cerita itu. Wujud Miss Mela saja sudah sering membuat banyak anak seperti aku ketakutan. Apalagi kalau wujudnya dipinjam sama hantu dan dirubah jadi lebih seram, ya? Lagi pula itu hantu kenapa juga pinjam wujudnya Miss Mela. Apa karena sosok Miss Mela yang sering suka marah-marah?

Usai salat, aku langsung bergegas mengikuti teman-teman ke kantin.

“Tumben ikut makan siang. Biasanya kan alasannya puasa,” tegur Laili sambil mencolek bahuku.

“Nggak berani ah. Nanti kalau aku sampai kesurupan di aula, siapa yang bisa nolong?” gurauku.

“Nggak diet pipi lagi,” lanjut Laili yang membuatku sampai harus memelototinya.

“Ih, suka-suka aku, deh,” ketusku membuat Laili sukses tertawa.

Tanpa sadar, aku langsung meraba kedua pipiku. Uh, kalau nggak karena ingin curi pandang melihat Taupan di kantin, atau memang karena aku juga takut berurusan dengan kesurupan, nggak bakal deh aku ikut makan siang. Tapi biar, aku makan sedikit saja.

Saat sedang antri giliran mengambil makan, tiba-tiba seorang office boy berlari terengah-engah dan memanggil Miss Mela.

“Bu, ada yang pingsan di aula. Anaknya habis teriak-teriak nggak jelas,” kata-kata itu seperti pengumuman yang menggemparkan kantin.

Aku membelalakkan mata dan lalu menatap Nafa dan Esti yang berdiri di dekatku. Kedua anak itu sepertinya mengerti apa yang ada dalam kepalaku.

“Untung kamu ikut ke sini, Sha,” ujar Nafa.

Laili yang ada di barisan depanku langsung menoleh. “Sha, kamu paranormal, ya? Beneran ada yang kesurupan, tuh!”

Aku cuma mengendikkan bahu. Untuk urusan makhluk tak kasat mata, bisa dibilang aku nggak seberapa takut tapi juga nggak seberapa berani. Mau menalar pakai logika, rasanya nggak masuk akal. Tapi kok ya kejadiannya ada.

Suasana kantin jadi gaduh. Beberapa anak yang sedang makan ada yang langsung mempercepat menghabiskan makanannya. Mereka lantas menyusul Miss Mela ke aula.

“Mau bantu juga nggak?” tanyaku ke Nafa dan Esti.

Mereka berdua langsung menggeleng. Namun yang membuatku bingung adalah wajah Esti. Mukanya langsung memucat.

Saat akan mengakhiri makan siang, wajah tegang Esti masih tak berubah.

“A-aku nggak mau ba-balik ke kelas. Apalagi… kelas kita di-di dekat aula, kan?”

“Esti kamu kenapa?” Nafa menggenggam tangan Esti.

“Eh, kok sampai dingin begini tanganmu?”

“A-aku aslinya punya bakat kesurupan. Sampai-sampai aku dikasih pegangan sa-sama papaku biar nggak gampang kesurupan. Dan aku baru ingat, barang itu  sekarang ketinggalan di ka-kamar,” terang Esti dengan suara terengah-engah. Wajah cemasnya sesekali mengarah ke gedung sekolah.

“Waduh, apa kita izin ke asrama untuk ambil dulu?” timpal Nafa.

“Nggak bisa. Kalian nggak ingat apa, Ustad Zaki pernah cerita kalau barang seperti itu malah yang jadi pintu masuknya. Yang ada barangmu itu nanti disita juga. Kan kita sudah diminta baca alma’surat pagi dan petang. Lagian juga kita tetap harus masuk kelas. Ada ulangan Fisika, kan,” terangku yang justru membuat Esti makin ketakutan.

Esti tidak punya pilihan. Ia tetap bersamaku dan Nafa berjalan kembali ke kelas.

Bruk!

“Aduh!” pekikku.

Kekhawatiran Esti menjadi nyata. Tubuhnya ambruk ke arahku yang membuatku jadi terjatuh ke samping.

Beberapa anak langsung sigap menolong Esti.

“Ayo, bawa ke klinik,” seseorang seakan-akan memerintah para penolong Esti untuk mengarah ke sana.

Baru beberapa langkah, terdengar tawa Esti terkekeh.

“Mati!” kulirik pelan-pelan wajah Esti yang bersandar di bahuku. Matanya setengah terpejam. Tangannya yang semula lunglai mendadak mencengkeram bahu kiriku dengan kuat.

Mungkin kalau tidak ingat orang yang di sebelahku ini adalah sahabatku, aku memilih pingsan saja. Ingin lari tapi nggak bisa. Sensasi horornya membuat bulu kudukku merinding. Padahal saat ini sedang siang terang benderang.

Segala doa dan ayat kurapal. Anehnya, kekeh Esti yang suaranya mirip di film-film horor itu tak menyurut.

Sampai di klinik, semua orang jadi bingung harus melakukan apa. Masing-masing membaca doa dan ayat Quran sesuai dengan kabar apapun yang pernah mereka dengar tentang cara mengatasi orang kesurupan.

Terdengar Dokter Rene menelepon seseorang meminta bantuan. Sementara Esti yang terduduk di hadapanku meracau segala kata yang tak jelas maknanya.

“Ini kayak bahasa melayu Daik, apa Natuna, ya? Hiy!”

Aku melirik sebal ke Nafa. Bilangnya, ‘hiy.’ Tapi dia justru asyik mengamati Esti seperti melihat orang aneh yang tak pernah dijumpanya.

“Kayaknya Ustad Zaki tidak bisa segera ke sini. Katanya di gedung sekolah juga ada beberapa anak yang kesurupan. Aduh, bisa lama ini si Esti kondisinya begini,” ujar Dokter Rene sambil terus memberikan minyak kayu putih di telapak tangan dan kaki Esti.

Satu dua anak yang awalnya dari gedung sekolah cerita kalau kesurupan massal di sana sangat heboh. Sampai ada belasan anak yang harus ditangani. Katanya yang merasuk ke tubuh anak-anak ada yang berasal dari Camp Vietnam Pulau Galang. Bahkan ada yang dari Jawa.

“Kurang kerjaan banget setannya! Masa pakai acara manggil teman dari Jawa? Pasti takut ya sama kita-kita. Terus yang dari Jawa, apa karena di sana nggak ada orang yang bisa dirasuki?” cerocos Nafa yang membuat wajah tegang pada beberapa orang di klinik jadi bubar berganti tawa.

“Saya bisa bantu, nggak Dok,” celutuk seseorang dari balik kaca.

Aku menoleh ke arah suara. Taupan?

“Eh nggak boleh. Bukan muhrim!” semprot Nafa galak.

“Aku nggak pegang langsung, kok. Kalau langsung, yang ada di dalam tubuh Esti bisa makin marah. Saya minta sarung tangan karetnya, lah Dok. Boleh ya, Dok?”

Dokter Rene seperti tak punya pilihan. Esti harus ditolong cepat.

Dengan sigap, Taupan segera membungkus tangannya dengan sarung tangan karet medis. Ia pegang kepala Esti. Aku tidak terlalu tahu apa saja yang dibaca Taupan. Yang ada, momen itu justru aku pakai untuk mengamati wajah manisnya yang terlihat tenang menangani Esti.

Oh my Mickey, aku hanya bisa membatin.

Berangsur-angsur, Esti mulai tenang. Menurutku cara Taupan ini cukup canggih. Tidak ada acara Esti yang sampai berteriak-teriak seperti kebanyakan orang kesurupan. Sepertinya suatu saat aku akan minta ia ajari caranya merukyah.

“Yang masuk ini tadi cuma ingin usil saja. Sebetulnya dia mau lewat. Tapi karena Esti sudah tegang dari awal, jadilah dia iseng masuk,” terang Taupan.

“Kok kamu bisa tahu?” tanyaku sambil memberi minum ke Esti.

“Ada deh. Tolong jaga Cinderellaku, ya,” bisik Taupan sambil bergegas berlalu yang membuat Nafa penasaran.

“Apa? Apa?” Nafa mendekatkan kepalanya ke arahku, memintaku menjelaskan apa yang baru diucapkan Taupan.

Semangatku karena bisa bertemu Taupan seketika langsung menguap.

**

Mendadak jadwal perpulangan dipercepat. Ini tentunya jadi kabar bahagia untuk kami semua tanpa perlu menunggu iklan kulit manggis lewat.

“Katanya sih, sekolah ini mau disterilkan dulu. Serangan dari negara api sedang menjadi,” jelas Nafa yang membuatku tergelak.

Segitunya pakai istilah negara api segala. Eh tapi benar sih, kan jin terbuat dari api, ya?

Beberapa anak yang sedang konsentrasi mengerjakan latihan soal Matematika langsung mengarahkan pandangan sebal karena mendengar gelak tawaku. Refleks, aku langsung menutup mulut.

Apapun itu alasannya, buatku kali itu benar-benar menyenangkan. Sederetan rencana langsung kubuat. Nongkrong di Harbour Bay sambil makan sotong bakar, mampir beli tom yam dan teh tarik di tempat makan langganan, atau… nyeberang sekalian ke Singapura, ya?

Sayang, segala rencanaku sepertinya tidak akan terlaksana. Para guru seakan-akan tidak ikhlas melihat kami hidup bahagia kala liburan tiba.

“Ini apaan sih? Tugas Biologi, Sejarah, Matematika, Fisika… ini sih namanya kita nggak bakal bisa keluar rumah sama sekali. Bahkan untuk keluar kamar kali, ya?” omel Nafa saat melihat beberapa tugas yang tertempel di papan pengumuman.

“Aku mau nyicil sebelum pulang, ah. Yang bisa aku kerjakan di sini, aku selesaikan,” tekadku.

Aku melirik ke arah Esti. Ia terlihat sibuk komat-kamit. Sejak kejadian kesurupan waktu itu, sekarang ia jadi banyak zikir. Ia nggak mau kesurupan lagi. Katanya kesurupan itu nggak enak. Badan rasanya sakit semua.

“Iya, bagaimana kalau kita kerjakan bareng apa yang bisa kita kerjakan di sini. Terus… kita ketemuan yuk nanti pas perpulangan,” usulku.

Esti tersenyum mengangguk. Nafa langsung memekik kata sepakat sambil tepuk tangan penuh semangat dengan mata berbinar.

Hari-hari semangat menuju masa perpulangan menjangkiti banyak anak. Di kelas G3 sendiri, aku menularkan virus mari bergotong royong mengerjakan tugas. Aku mengajak siapa saja yang mau menyelesaikan tugas dengan segera untuk kumpul di ruang nonton tivi pada malam harinya.

Sebagai anak G3, kami harus kompak. Itu bahasaku untuk menyembunyikan beberapa alasan. Aslinya, aku takut mengerjakan tugas malam-malam hanya ditemani Nafa dan Esti. Kalau ada setan usil lewat lagi bagaimana? Sekaligus aku punya alasan mari bersenang-senang begadang di malam hari demi tugas yang menumpuk. Tuh, salah siapa kasih tugas banyak-banyak?

Yang terakhir, ah, mumpung aku sedang berbaik hati berbagi kecerdasan. Setelah tujuanku beberapa waktu ke depan selesai, bye!

**

Akhirnya cita-citaku memiliki waktu luang saat masa perpulangan terkabul. Seperti saat ini, mama sedang mengantarku ke mall yang ada di Batam Center untuk ketemuan dengan Nafa dan Esti.

Aku jadi ingat Laili yang tempo hari mengolok-olok rencanaku saat aku bercerita padanya.

“Kalian? Mau ketemuan?” Laili meyakinkan.

“Iya. Ikut sekalian yuk! Kita nonton bareng,” ajak Nafa.

“Ck ck ck,” Laili menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hidup kalian kok nggak berkualitas banget sih? Apa nggak bosan? Di sekolah, 24 jam ketemu. Masa di luar sana kalian mau ketemuan juga?”

Aku langsung buang muka sambil mencibir. Nyesal sudah cerita ke Laili. Dia selalu paling jago menjatuhkan mental temannya.

Rencana kami akhirnya tetap jalan. Tidak hanya aku, Esti, dan Nafa saja yang ikut nonton bareng. Ada yang lain juga lho. Coba tebak?

Yap. Jadi, papanya Esti, mamaku, dan kakaknya Nafa ikut nonton juga. Huhuhu, aku merasa seperti anak-anak TK yang dikawal orangtuanya. Kalau mamaku sih ngotot karena lama nggak nonton bareng denganku. Papanya Esti bilang katanya karena bosan kesepian di rumah nggak ada Esti. Kakaknya Nafa alasannya ingin menghibur diri setelah patah hati. Baiklah, rupanya semua punya alasan untuk tidak membiarkan kami bertiga nonton bareng.

Saat menuju mall, iseng aku membuka-buka Facebook lewt ponsel. Sepertinya agenda hampir semua anak SMA Cik Puan saat perpulangan adalah saling menghubungkan jaringan media sosial. Tentu dong, aku tidak melupakan urusan utamaku, segala media sosial Taupan yang ternyata nama aslinya Muhammad Nur Taufik.

Waktu membuka Facebok, hal pertama yang aku cek adalah status hubungan. Oke, tertulis single. Pantas saja ia mengincar Esti. Dan buatku selama status di Facebook belum berubah dari single, ia masih bisa aku perjuangkan.

“Sudah sampai, nih. Kalian janji ketemuan langsung di bioskop?” Mama menyadarkan keasyikanku yang sedang bermain ponsel.

“Iya Ma,” jawabku.

Saat tiba di bioskop, urusan tiket sudah beres di tangan Nafa. Masih ada 15 menit waktu sebelum film dimulai. Aku, Nafa dan Esti langsung asyik ngobrol tentang fenomena anak-anak SMA Cik Puan di media sosial.

Sesaat, aku tersadar jika kami bertiga telah tidak datang sendirian. Kakaknya Nafa masih setia menempel kami bertiga. Mama kulihat sedang berbincang-bincang dengan papanya Esti.

Namun menurutku, ada yang aneh pada keduanya. Mereka terlihat akrab dan seperti sudah saling kenal. Berkali-kali kulihat mama tersenyum hingga tawa tergelak saat berbicara dengan papanya Esti.

“Apa mereka teman lama?” batinku ingin tahu.

Tak bisa menunggu waktu lama, aku langsung bertanya pada Mama saat berjalan ke pintu studio bioskop.

“Mama kenal papanya Esti? Dia teman Mama?” kejarku penasaran sambil berbisik.

“Iya,” hanya itu yang terjawab dari bibir Mama.

Sayang, aku tidak punya kesempatan memburu rasa ingin tahuku saat kaki kami menginjakkan pintu studio bioskop. Tapi saat perjalanan kembali ke rumah, tentunya aku tidak lupa untuk kembali menanyakan hubungan mama dengan papanya Esti.

“Dia teman lamanya Mama. Kamu kok penasaran banget, sih?” jawab Mama.

Kuamati wajah Mama terlihat berseri-seri. Kedua sudut bibir Mama terus tertarik ke arah samping. Malah sambil menyetir mobil, Mama kerap bersenandung. Kalau tak salah, lagunya Kotak yang berjudul Pelan-pelan Saja yang didengungkan Mama hanya dengan suara gumaman.

Tiba-tiba ada yang terasa sesak di dadaku. Aku tidak nyaman dan sepertinya ada sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi.

“Dia cuma teman Mama, Marsha. Dan kamu nggak perlu cerita apa-apa ke Papa,” ujaran Mama terasa seperti perintah.

Kulirik Mama dengan pandangan tajam. Benar, sepertinya ada yang Mama sembunyikan dariku! Bukankah virus pelangi ini seharusnya hanya aku alami untuk Taupan? Kenapa Mama sepertinya jadi ikut-ikutan kena virusnya?

 

Yang belum sempat baca bab-bab sebelumnya, sila klik di link berikut ini:

Bab 1

Bab 2

Bab 3

Bab 5, bab selanjutnya

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

9 thoughts on “Bab 4: Virus Pelangi

  1. Dulu pas tingga di kudus, mertua perempuanku sering kemasukan. Ngomongnya jadi aneh. Tapi uniknya apa yang diucapkan kok sangat bijak dan penuh nasehat gitu. Semua takut karena keseringan lihatnya lama-lama terbiasa…btw..subhanallah…keren mbak. i’ll be back to read all…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *