bab 5 janji yang tak ditepati

Bab 5: Janji yang Tak Ditepati

Posted on Posted in Fiksi Remaja

bab 5 janji yang tak ditepati

Buat yang belum baca bab-bab sebelumnya bisa lihat di sini:

Bab 1

Bab 2

Bab 3

Bab 4

“Waktunya main facebook, twitter, IG atau ngenet apapun sepuasnya sebelum kembali ke penjara suci.”

Status Facebook milik salah seorang anak SMA Cik Puan itu langsung disambut banyak komentar. Tentu, aku juga.

“Woi, PR udah pada selesai belum? Btw, itu istilah penjara suci keren kali, wak!”

Komentarku pun langsung dapat banyak balasan.

“Gampang, PR tinggal diselesaikan di sekolah saja.”

“Engkau sudah selesai Sha? Aku pinjam lah!”

“Bener, penjara suci. Kita di sana macam ada dalam penjara. Tapi suci pun kita di sana. Banyak belajar jadi orang Islam yang baik *LOL.”

“Halah, bergaya betul mikir PR. Ini waktunya bebas!”

Saling komentar, adu kekonyolan, terus memanjang di status itu. Hingga kerumunan para komentator pun buyar setelah Miss Mela menurunkan komentarnya di status itu yang bertuliskan, “Saya membaca semuanya lho, ya!”

Jleb. Benar-benar buyar tanpa ada satu pun yang berani komentar lagi. Tapi sebentar saja. Rupanya ajang berbalas komentar pindah ke lapak media sosial yang lain.

Ulah teman-temanku yang seperti main kucing-kucingan di media sosial malam itu membuatku tertawa lebar. Sampai rahangku rasanya ngilu karena menahan suara tawa lepas, berharap tidak sampai membuat kegaduhan hingga ke telinga tetangga.

Heran juga dengan Miss Mela. Mau sampai kapan sih dia mengamati anak-anak yang main media sosial? Teman-temanku itu bisa jadi sampai besok pagi juga akan segila itu. Ada-ada saja!

Kulirik jam mungil Minnie Mouse di atas meja belajar. Hampir jam sebelas malam. Mataku sesaat terpejam, memberi ruang untuk mulut yang mendesak karena ingin menguap lebar.

Seingatku, beberapa hari yang lalu, biasanya jam segini aku sedang mengerjakan tugas dengan teman-teman G3. Rasanya tidak ada kantuk karena kami selalu ngobrol hingga bercanda. Tapi saat sekarang aku di rumah, justru mataku terasa berat.

Sebetulnya aku ingin tidur dan menyudahi aksi perayaan keluar dari penjara suci. Aduh, kenapa pula aku jadi ikut-ikutan pakai istilah itu. Namun sampai di Facebook Esti, rasa kantukku menguap.

“Gila itu Taupan. Semua-semua di Facebook Esti dia komentari?” cetusku takjub.

Kuketik kata singkat di salah satu komentar Taupan, “Ehem.”

Sepertinya Esti sudah tidur. Karena sebegitu banyak komentar Taupan tidak direspon Esti. Sepertinya Esti tidak seperti anak-anak lain. Ia mungkin sedang merayakan masa-masa bisa tidur cepat yang sangat langka bisa didapat saat berada di asrama. Menyadari sesuatu, aku jadi tersenyum lebar. Pasti saat Esti membuka Facebook, ia akan terkejut mendapati begitu banyak notifikasi dari Facebook bernama Taufik Tampan Alias Taupan.

Perutku yang minta untuk diisi membuatku melangkahkan kaki ke luar kamar, mengambil makanan dan minuman. Saat kembali, terlihat sebuah jendela chat Facebook keluar di layar netbookku. Dari Taupan.

“Pst Marsha, aku lagi usaha nih!” tulis Taupan yang lalu diikuti simbol mengedipkan satu mata.

Aku membalas dengan simbol tertawa lebar. Meski di dalam hatiku tentunya tidaklah sama.

“Gimana Sha, aku pantas kan sama Esti?”

“Zodiakmu gemini ya?” aku malah balas bertanya. Meski lebih tepatnya, aku hanya memastikan apakah informasi yang ada di biodata Facebooknya itu benar atau tidak.

“Iya, kenapa? Cocok nggak sama Esti?” Taupan ternyata tanggap dengan arah obrolanku.

“Sebetulnya cocok juga sih. Sama-sama karakter jenius,” komentarku jujur.

“Halah, ramalan dipercaya. Ingat ceramahnya Ustad Zaki dong! Eh, tapi kamu Gemini juga kan Sha?” tembak Taupan.

“Iya, tahu dari mana?” aku merasa berdebar-debar. Ah, Taupan ternyata bisa tahu zodiakku juga?

“Haha, kan aku baca biodatamu yang dikumpulin ke Mr Dhana. Jadi saingan nih kita nanti maju kandidat ketua OSIS?”

Aku membatin, oh ternyata Taupan mencalonkan diri juga? Wah, seru ini!

Tidak aku duga, percakapan kami justru sampai ke mana-mana. Mulai dari saling membicarakan visi misi kami saat nanti jadi ketua OSIS, membayangkan ingin membuat berbagai kegiatan di sekolah, hingga membicarakan buku, musik, juga film.

Pada akhirnya aku tahu, Taupan rupanya sosok yang mengasyikkan untuk diajak diskusi. Padahal kesan yang ada di kepalaku sebelumnya, Taupan sangat suka bercanda. Nyatanya ia bisa juga diajak bicara serius. Wawasannya pun luas.

Diskusi kami baru berhenti saat Taupan menyadari alarm hpnya berbunyi.

“Eh, rupanya sudah jam tiga, wak! Alarm hpku sudah bunyi. Aku pamit dulu lah, Sha. Hehe, waktunya ketemuan sama Allah, nih.”

Aku membalas singkat, “Oke.” Lalu menutup jendela pembicaraan Facebookku dengan Taupan.

Sebuah senyum langsung terukir di bibirku. Ya Allah, kenapa aku jadi begitu rela hatiku dijatuhi namanya?

**

“Kakak Marsha… ayo jalan-jalan…” suara ringan Odie yang bervolume tinggi masuk ke telingaku.

Lalu terdengar suara gorden yang dibuka kasar, disusul samar terang yang menuntut pelupuk mataku mengeratkan pejamannya.

Sial, aku lupa mengunci pintu kamar semalam. Sepertinya aku lupa melakukannya setelah mengambil camilan.

“Ih, katanya mau kurus? Mau tidur kok makan kacang?”

Kubuka mataku paksa. “Apa? Kacang?”

Kulihat Odie menatapku aneh. Dengan mata mengerjap-kerjap, aku mencoba mengingat-ingat. Bagaimana bisa semalam aku makan kacang? Itu kan camilan yang nggak bagus untuk perkembangan dietku. Seharusnya kan semalam aku ambil apel. Kenapa jadi kacang?

“Kenapa aku bisa makan kacang?” suara serakku keluar, membuat Odie makin keheranan dengan mata membulat, bersaing dengan mulutnya yang membuka lebar.

“Kakak bisa nggak sadar kalau sudah makan kacang? Ih, aneh betul lah Kakak ini! Ayo lah Kak, kita jalan-jalan. Atau gimana kalau kita renang di belakang? Biar badan Kakak kembali kurus setelah makan kacang,” cerocos Odie panjang.

Jika aku tidak merangkulnya dan mengajaknya keluar kamar, mungkin ocehannya bisa menyaingi panjang jembatan Barelang.

Kuambil segelas air hangat untuk meringankan kepala yang terasa berat. Yang jelas, dengan kondisi kurang tidur karena baru tidur setelah salat subuh tadi, aku nggak berani renang.

“Kita jalan-jalan saja lah. Ke Engku Putri saja gimana?” tawarku. Meski aku tidak yakin, bagaimana caranya aku akan bisa tetap terjaga saat jalan-jalan nantinya. Ini saja sejak jalan dari kamar sampai sekarang aku duduk di depan meja makan, mataku hanya bisa separuh membuka.

“Malas lah Kak, sudah panas.”

Suara Mama kemudian menyahut, “Lagian Kak Marsha kan harus berkemas, Odie. Nanti sore Kakak balik ke sekolah. Kamu ikut lagi, tak?”

Aku langsung melempar senyum manis ke Mama. Yes, terima kasih, Ma! Mama telah menyelamatkanku.

“Yah!” Odie cemberut sambil mengerucutkan bibirnya dan pergi berlalu.

“Marsha, kamu nggak bilang apa-apa ke Papa, kan?” suara Mama terdengar lirih berbisik di telingaku. Membuat mataku yang sedang terpejam kembali setengah terbuka.

“Kasih tahu apa, Ma?” aku merasa tidak mengerti. Nyawaku yang masih berserak di alam tidur membuat memoriku belum benar-benar utuh.

“Yang kita kemarin nonton?”

Aku menggelengkan kepala. Masih tidak mengerti apa yang Mama maksud.

Terdengar suara napas Mama berhembus kasar. Lalu suara langkah kaki Mama menjauh. Ingatanku yang berangsur kembali hanya memperingatkanku satu hal, aku harus segera membereskan barang bawaanku untuk kembali ke sekolah.

**

            Odie tidak ikut mengantarkanku. Rupanya dia betul-betul marah. Sebetulnya aku sedih karena sampai lupa dengan janjiku sendiri padanya. Ya, saat pulang kemarin, aku berjanji akan mengajak Odie jalan-jalan. Pokoknya asalkan dia tidak ikut aku nonton bersamaku dengan Esti dan Nafa. Odie sudah mengabulkan permintaanku. Tapi aku tidak menepati kata-kataku untuknya.

“Perpulangan nanti Kakak janji lah.” Odie masih membuang muka.

“Dobel jalan-jalannya!” tawaranku meningkat karena cemberut Odie tak kunjung surut.

Aku memberikan jari kelingkingku. “Ayolah, Odie,” pintaku penuh harap.

Odie membalas dengan setengah enggan. Ia lingkarkan jari kelingkingnya di kelingkingku tak begitu erat.             Tapi bagiku itu sudah cukup membuatku lega. Odie mau berbaikan dan menerima tawaranku.

Setelah masuk mobil, Papa langsung menyetir dengan kecepatan tinggi.

Aku berpikir, mungkin Papa mengejar waktu karena aku harus masuk asrama paling lambat jam lima sore. Sedangkan saat ini sudah jam empat.

“Hati-hati, Pa,” Mama mengingatkan ketika mobil Papa berkali-kali lincah menyalip kendaraan lain.

Aku yang awalnya mau asik meneruskan membuka Facebook lewat ponsel, jadi merasa tidak tenang. Apalagi jika di depan mobil Papa pas ada angkutan Metro Trans. Terkadang angkutan itu suka sesekali langsung memotong jalur di depan kendaraan apapun dan berhenti untuk mengangkut penumpang. Kalau tidak hati-hati, alamat kendaraan yang ada di belakangnya bisa menabrak.

Kulihat ada sebuah pesan di Facebookku. Dari Taupan. Rupanya setelah aku menutup kotak obrolan dengannya semalam, ia masih menuliskan pesan, “Bantu jadi mak comblangku ya Sha, ke Esti.”

Aku hanya mengangkat satu sudut bibirku untuk tersenyum. Maaf, aku nggak akan pernah janji mengiyakan, Pan. Meski jika kita berhadapan, aku akan berkata iya.

Aku menarik napas panjang, lantas memadamkan layar ponsel. Saat melihat ke jalan, rupanya mobil Papa baru saja melewati jembatan Barelang. Aku menatap takjub punggung Papa dari belakang.

“Keren juga lah Papa ini. Sudah sampai sini. Papa mantan pembalap ya?” gurauku.

“Iya, pembalap di hati Mama juga lho,” celutuk Mama menimpali sambil menggoda Papa.

Namun yang aku heran, reaksi Papa hanya diam saja.

“Krik krik. Krik krik. Ayolah Pa, udahan ah ngambeknya,” Mama merajuk sambil mengelus lembut pundak Papa.

Papa masih bergeminng. Pandangannya tetap lurus ke depan.

“Ada apa sih Ma?” aku mulai merasa ada yang tidak beres.

“Kamu sih, Sha. Pakai acara naruh foto bareng pas nonton di Facebook,” jawab Mama yang membuatku tidak mengerti. Apa salahnya?

“Lho, Marsha kan taruh foto yang bertiga dengan Esti dan Nafa. Salahnya apa, Ma?”

“Nggak apa-apa, Sha,” suara Papa akhirnya keluar. Yang salah ya orang yang ikutan nonton dan berdiri di belakang kalian sambil asik ngobrol.”

Untuk beberapa saat aku mengerjapkan mata mencoba menggali ingatan. Bergegas kubuka kembali aplikasi Facebook di ponselku.

“Aku kan sudah bilang, Pa. Kami itu sudah nggak ada apa-apa. Dia memang teman lama Mama. Dan apa salahnya sih kalau dia tetap jadi teman Mama?”

“Cari teman yang lain. Teman kok berkali-kali naksir Mama terus. Sampai kapanpun Papa nggak akan pernah percaya sama dia.”

Sementara Papa dan Mama berdebat, aku mengamati foto yang telah kutaruh di Facebookku semalam. Aku memicingkan mata untuk menajamkan pandangan. Di balik tubuhku, Esti, dan Nafa dalam foto, juga ada gambar Mama dan papanya Esti yang sedang tertawa bersama.

“Papanya Esti. Mama,” gumamku sambil terus menatap foto itu.

“Maaf Marsha, kamu jadi tahu. Sebetulnya Papa nggak ingin kamu tahu. Papa ingin kamu tetap berteman baik dengan anak orang itu. Temanmu itu nggak salah. Tapi…” suara Papa menggantung.

“Cukup, Pa. Mama kan sudah berkali-kali minta maaf semalam. Dulu Mama juga sudah janji…”

“Tapi Mama menepati janji Mama? Ma, kalau Mama bilang jujur, Papa nggak akan kayak begini kesalnya. Tapi Papa malah harus tahu pas nggak sengaja lihat Facebooknya Marsha. Kenapa Mama nggak terus terang? Kenapa Mama masih nggak menghindari orang itu yang selalu punya perasaan khusus ke Mama? Tolong lah Ma, kita bukan anak remaja lagi.”

Mama diam, tak membalas kata-kata Papa. Sementara aku yang duduk di belakang mereka terhenyak dan merasa tak percaya bisa mengetahui semuanya. Satu hal yang aku syukuri, Odie tidak ikut dan tidak harus tahu semua pertengkaran ini.

Mobil Papa akhirnya sampai di sekolah. Kucium tangan Mama dan Papa sambil melirik mereka. Jujur, aku tidak nyaman harus berpisah dengan mereka dalam kondisi seperti ini.

“Marsha pamit, Pa, Ma. Assalamu’alaikum,” ujarku lalu bergegas berlalu.

Dari area parkiran mobil, langkahku berbelok ke gedung koperasi. Di benakku hanya ada satu yang ingin kubeli. Satu bungkus besar kacang pedas. Jika sedang kesal, perutku bisa lapar. Semoga rasa pedasnya bisa meringankan penat di kepala.

Jadwal diet dalam otakku sepertinya sedang terselip entah ke mana. Kali ini aku kembali tidak menepati janjiku sendiri untuk diet. Kuabaikan kacang dan ketidakstabilan perasaan yang kembali menjadi partner in crime dalam mengacaukan komitmenku.

Bab 5 Novel G3

Dari sekian tumpukan memori di kepala, ingatan peristiwa yang tak nyaman saat aku masih kelas lima SD keluar menyeruak kesadaranku sekarang.

Aku pernah mengalami hari-hari tanpa Mama. Kudengar kerabat Papa membicarakan Mama dengan kata-kata, ‘Selingkuh.’ Lalu mereka memandang iba kepadaku.

Rasa ketidaknyamananku bertumpuk. Aku tidak suka mereka membicarakan Mama di depanku. Seakan-akan aku anak kecil yang tidak bisa mengerti. Bahkan anak umur tiga tahun saja bisa paham kalau dirinya dibicarakan orang dewasa di sekitarnya.

Aku kesal saat tidak bisa menjumpai Mama hingga berminggu-minggu lamanya. Lalu aku bertanya-tanya, apakah Mama tidak rindu denganku? Tidak kangen dengan Papa?

Hatiku seperti dibebani batu berat saat mendengar kata-kata ‘Mama selingkuh.’ Benarkah Mama tidak menyayangiku dan Papa? Yang kuingat sejak kecil, Mama sesekali terlihat menangis. Kadang tatapannya kosong. Sesekali Mama banyak diam dan hanya berujar seperlunya.

Lantas berminggu-minggu kemudian Mama kembali ke rumah. Dengan tangis dan segala kata minta ampun menghujani Papa. Sesaat Papa diam tak menatap Mama. Sampai Mama bersimpuh dan memeluk kaki Papa. Saat itu Papa baru merespon dengan meminta Mama berdiri dan memeluknya.

Di usia itu, yang aku sadari Mama sudah berbuat salah. Meski aku tidak tahu seperti apa yang sesungguhnya. Tapi sejak hari itu, aku seperti punya Mama baru. Mamaku pada akhirnya bisa seperti mama teman-temanku yang selalu hangat memeluk anaknya. Saat Mama tertawa, aku merasakan ia bahagia. Tawa yang baru sejak itu kulihat. Mama terkadang bermanja-manja memeluk Papa. Hal yang juga tak pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak lagi menjumpai tangisan bisu atau wajah kosong Mama.

Setetes air mata keluar bersamaan dengan akhir ingatan berwarna kelabu itu. Langkahku yang berat sambil menyeret koper kuhentikan sejenak. Sesaat aku membuka bungkus kacang dan mengambil beberapa butir untuk kumakan.

“Jangan sambil berdiri apalagi jalan, Marsha. Kasihan perutmu. Apalagi kalau ketahuan kena konsekuensi, lho,” suara lembut Esti mengingatkanku dari belakang.

Dadaku berdegup riuh, menyadari tentang sahabatku itu, dan seorang pria yang menjadi papanya. Orang yang telah membuat papaku murka. Benarkah orang itu telah membuat Mama kembali melupakan janjinya?

 

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

5 thoughts on “Bab 5: Janji yang Tak Ditepati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *