Blog Gado-gado Mungkin Saja Pemiliknya Si Kutu Loncat Pekerjaan Seperti Saya

Blog Gado-gado? Mungkin Saja Pemiliknya Si Kutu Loncat Pekerjaan Seperti Saya

Posted on Posted in Coretan Pikiran, Naskah Lomba

Blog Gado-gado Mungkin Saja Pemiliknya Si Kutu Loncat Pekerjaan Seperti Saya

Ada banyak alasan kenapa ada blog yang isinya gado-gado. Mungkin pemiliknya menyukai banyak bidang yang akhirnya ia tulis dalam blognya.
Atau, mungkin pemiliknya si kutu loncat pekerjaan seperti yang saya lakoni hingga sekarang.
Terkadang kalau diingat-ingat, saya sendiri juga bingung. Kenapa juga ya saya sampai melakoni pindah-pindah kerja yang beda-beda? Ibarat kutu loncat, saya itu bisa hinggap ke berbagai tempat dan bidang kerja yang tak sama.
Jadi kalau ada yang mau tahu curriculum vitae saya, seumur-umur, saya itu sudah pernah lho melakoni kerja jadi reporter, dosen, pengajar taman penitipan anak, penulis lepas, guru SMA, dan sekarang melabeli diri jadi blogger.
Sebetulnya yang setelah ini masih ada satu kerja lagi yang akan saya lakoni. Ritmenya masih sama, kerja yang beda dari sebelum-sebelumnya. Cluenya, berhubungan dengan jual beli makanan. Ayo tebak apaan??? Eit, tapi karena belum 100 persen fixed, nanti saja deh pengumumannya.
Btw, memangnya ada nggak sih yang mau tahu curriculum vitae saya? Hohoho… lha kok GR benar ya saya ini… Ah, biarin deh!
Setiap melakoni pekerjaan, bisa dibilang saya nggak suka melakukannya dengan cara biasa. Lha iyes dong, orang makanan kecil saja punya slogan life is never flat. Masa saya mau kalah?
Di setiap pekerjaan, bisa dibilang internet jadi sumber inspirasi sekaligus tempat saya berbagi. Banyak hal dari internet yang begitu membantu, serta membuat saya menjalani pekerjaan dengan cara yang tak kebanyakan.
Dari situ, saya bisa berbagi banyak hal dari seputar pekerjaan saya ke banyak orang. Utamanya dengan media blog.
Jadi kalau dijabarin, ini dia hal-hal berbeda dalam setiap pekerjaan yang pernah saya lakukan dan akhirnya mewarnai perjalanan blog saya dari masa ke masa.

Berbagi Hasil Reportase Lewat Blog

Reporter
Sewaktu ditugaskan meliput ke Makassar dan numpang ngetik berita di Tribun Timur

Saya bersyukur sekali setelah lulus kuliah bisa diterima kerja jadi reporter. Ini adalah pekerjaan saya yang pertama, Menjadi reporter itu impian saya banget yang sudah saya pupuk sejak zaman kuliah.
Hehehe, padahal kuliah saya jurusan pendidikan ekonomi. Tapi gara-gara aktif ikut organisasi pers kampus, jadilah profesi reporter yang saya impikan.
Hal lain yang saya syukuri adalah, di tempat kerja saya yang satu grup dengan Kompas Gramedia tersebut, di Tribun Batam, saya benar-benar dapat banyak ilmu reportase yang tak seperti media kebanyakan.
Satu di antara konsep yang ada adalah sebuah konsep yang sebaiknya saya dan teman-teman sajikan dalam setiap berita. Intinya, berita itu harus ada arti dan manfaatnya untuk pembaca serta bersifat solutif.
Konsep tersebut makin menebal saat saya diberi tanggung jawab untuk menjadi reporter khusus media mingguan. Segmen pembaca utamanya adalah remaja untuk koran yang terbit di hari Sabtu, serta wanita dan keluarga untuk koran yang terbit di hari Minggu.
Jadi setiap minggunya, saya itu bisa meliput hal-hal seputar… (*tarik napas dulu): dunia anak muda, otomotif, teknologi, kecantikan, profil sekolah, kesehatan, keuangan, karir, rumah tangga, wanita, parenting, hingga properti. Hihihi, segambreng kan yah?!
Karena tidak punya dasar keilmuan untuk semua bidang itu, andalan saya untuk mencari inspirasi adalah internet. Selain itu ada juga majalah remaja dan wanita yang rutin jadi langganan kantor tempat saya kerja.
Setelah beberapa minggu melakoni bagian tersebut, saya terpikir, kok sepertinya tulisan saya bisa dibaca lebih banyak orang ya. Tidak hanya para pembaca koran yang ada di Batam dan sekitar Kepulauan Riau saja.
Akhirnya sekitar tahun 2006, saya membuat blog bernama ikapunyaberita.wordpress.com. Isinya sebagian besar tulisan hasil reportase saya yang sudah terbit di media mingguan.
Asal muasal punya blog juga diinspirasi dari para jurnalis dan juga blogger yang saya temukan di mailing list jurnalisme waktu itu. Para jurnalis tersebut menuliskan hasil reportase mereka, terutama untuk berita yang bersifat depth news atau feature ke dalam blog pribadi mereka.
Responnya menyenangkan dan hampir seperti yang saya duga. Tulisan-tulisan yang saya unggah di sana benar-benar banyak dibaca oleh berbagai kalangan dari berbagai daerah. Bahkan hingga bertahun-tahun setelah saya tak lagi menjadi reporter.
Yang tidak terduganya itu, terkadang saya jadi konsultan kesehatan sampai masalah rumah tangga dari orang-orang yang berkunjung di blog dan komentar dengan menanyakan ini dan itu.
Jadi pernah ada yang berkeluh kesah tentang masalah rumah tangganya, konflik asmara, sampai ada yang curhat ingin sekali menjadi model.
Tapi ya itu, kadang saya agak gemas juga dengan pembaca blog yang tidak bisa membedakan apakah tulisan itu dibuat karena saya pakarnya atau saya yang menjadi penulisnya.
Jadi waktu menulis tentang profil sebuah EO misalnya, lha kok saya ditanya tentang bagaimana ini itu tentang mendirikan EO. Waktu menulis tentang penyakit kulit, saya ditanya bagaimana cara menyembuhkan penyakit kulit yang dialami pembaca blog saya tersebut.
Pokoknya masa-masa punya blog di tahun-tahun itu tidak seperti sekarang ini. Kalau sekarang ini kan sudah banyak orang yang memiliki blog. Sudah mengerti apakah tulisan itu memang sesuai dengan pengalaman pribadi si penulis ataukah hasil laporan dari kejadian lain.
Meskipun, masih ada juga sih pembaca yang tidak bisa membedakan mana berita, mana artikel, mana curahan hati. Tapi kalau waktu itu, banyak sekali pembaca blog yang sangat tidak bisa membedakan hal tersebut.
Akhirnya saya memilih memoderasi komentar-komentar pembaca salah persepsi ini dengan tanpa membalasnya. Harapannya sih semoga ada pembaca blog baik hati dan tidak sombong dan benar-benar tahu sesuai dengan pengetahuan yang mau menjawabnya.
Eit, tapi saya nggak sepelit itu juga. Kalau pas saya bisa jawab sih, saya jawab. Terkadang ikutan senang juga kalau bisa membantu memecahkan masalah orang lain. Atau sekedar jadi teman curhat orang lain yang sedang tidak nyaman kondisi hatinya.

Cerita pada akhirnya saya sampai bisa punya dua blog, bisa dibaca di sini

Mengajar Mahasiswa dengan Media Film

Mengajar Kewarganegaraan
Serunya para mahasiswa jurusan Akuntansi saat presentasi matakuliah Kewarganegaraan

Setelah melakoni profesi reporter selama tiga setengah tahun, saya pun beralih jadi dosen di Politeknik Batam. Tapi tetap, kerjaan yang satu ini tidak sejalur dengan ijazah kuliah saya.
Jadi sewaktu jadi dosen, saya harus mengajar matakuliah bahasa Indonesia dan kewarganegaraan berikut menjadi dosen pengampunya. Hanya di akhir-akhir masa mengajar di sana, saya akhirnya kembali ke jalur ilmu: bisa mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi meski hanya setengah semester.
Karena melakoni kerjaan yang saya merasa awam, jadilah sohib terdekat saya ya internet. Hampir setiap hari, saya menggali informasi untuk bahan-bahan mengajar serta bagaimana cara mengajar yang asyik untuk mahasiswa.
Hasilnya, saya menemukan the big AHA cara mengajar. Yaitu dengan media film untuk perkuliahan Kewarganegaraan.
Di kelas, saya bisa mengajak mahasiswa untuk nonton bersama dan mengkajinya dari sisi materi kuliah. Selain itu untuk membuat mahasiswa yang lebih aktif di kelas, saya meminta mereka membuat film sebagai media presentasi materi.
Masa-masa kerja jadi dosen ini benar-benar membuat saya lagi-lagi ketiban banyak ilmu. Terutama ya dari para mahasiswa saya sendiri.
Dari mereka, saya sering dibuat terkagum-kagum saat melihat mereka menampilkan materi di sesi diskusi atau saat presentasi film.
Kalau di jurusan akuntansi, saya melihat bagaimana upaya para mahasiswa saya menyajikan bahan presentasi dengan cara yang kreatif hingga teman-temannya terlibat aktif diskusi.
Misalnya nih, membekali teman-temannya dengan bendera merah putih. Jadi yang ada, sesi diskusi pun semeriah orang nonton bulu tangkis di stadion!
Kalau di jurusan elektro, buat saya, ini adalah jurusan anak-anak yang kreatif membuat materi presentasi full animasi. Sering saya sampai ingin menutup muka pakai bantal karena merasa kalah jauh dengan mereka. Lha iya, dosennya masih pakai power point kualitas standar. Eh, ini mahasiswanya sudah pakai animasi tingkat dewa!
Jurusan informatika juga nggak kalah kreatifnya. Mereka itu para jagoan kreatif kalau membuat film. Misalnya, ada dari mereka niat banget buat film tentang hak asasi manusia untuk perkuliahan Kewarganegaraan dengan tema bencong juga manusia. Shooting malam-malam di lapangan Engku Putri, sampai serius di urusan make up untuk membuat film tersebut.
Nah, di masa-masa saat menjadi dosen, hal-hal seperti itulah yang mewarnai isi blog saya. Cerita tentang berbagai keseruan saat belajar bersama mahasiswa sampai sisi-sisi inspiratif dari beberapa mahasiswa saya itulah yang tertuang dalam blog.
Tulisan paling berkesan yang pernah saya buat di blog adalah tentang beberapa mahasiswa saya yang harus berjuang untuk terus kuliah sambil bekerja.
Ada yang kerja shift malam hingga subuh, lalu jam tujuh paginya dia sudah siap masuk kuliah. Sebelum jam masuk, saya sering menjumpainya duduk di bangku taman sambil memejamkan mata. Meskipun begitu, di sesi perkuliahan, dia tetap semangat dan aktif dalam sesi diskusi.
Kabarnya yang hingga kini kerap saya jumpai di facebooknya, ia sering ke luar negeri untuk urusan kerja. Melihat kesuksesannya kini, rasanya saya bangga pernah jadi dosen orang yang berkarakter hebat.

Segudang Ide Mengasyikkan untuk Para Balita

Di Taman Penitipan Anak
Saat mengamati serangga di lahan kosong sebelah taman penitipan anak.

Rasanya memang seperti bumi dan langit. Setelah harus berhadapan dengan anak-anak di usia mahasiswa, di profesi saya yang selanjutnya, saya dituntut untuk berhadapan dengan para balita.
Jadi ceritanya kerjaan saya selanjutnya waktu itu adalah jadi kepala sekolah Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun di Lamongan. Bagian kerjanya selain diminta memimpin TPA, saya juga harus mengajar para balita.
Buat saya yang belum pernah punya anak, tentunya kerjaan saya kali itu menjadi tantangan yang besar. Lagi-lagi, penolong saya ya internet! Bagaimana saya harus memahami karakter balita sampai ide aktivitas dengan mereka, bisa saya temukan di internet.
Di saat inilah saya mulai mengenal yang namanya Pinterest dan bisa sampai lupa waktu jika sedang melihat berbagai ide menarik dari clip board-clip board yang ada.
Gara-gara mengajar di TPA misalnya, saya jadi tahu dan bisa membuat clay dari bahan tepung terigu dan minyak goreng. Modalnya ya dari browsing internet.
Berbagai aktivitas itulah yang kemudian mengisi lembar-lembar blog saya selanjutnya. Responnya lumayan juga dari pembaca blog. Tulisan saya tentang bagaimana menitipkan anak di daycare atau taman penitipan anak sampai berbagai aktivitas yang bisa dilakukan bersama balita, kerap dibuka oleh pembaca blog saya.

Belajar dari Para Penulis Senior

Belajar menulis lewat ponsel
Masa-masa belajar menulis lewat media sosial yang banyak saya lakukan dengan menggunakan ponsel

Kalau yang profesi kali ini, ceritanya sih, waktu itu saya ingin merintis karir jadi penulis lepas. Yang stay at home. Modal belajar saya waktu itu paling banyak dari interaksi dengan para penulis senior di Facebook.
Rasanya terima kasih banyak deh buat para penulis senior yang waktu itu mau berbagi ilmu dan diskusi dengan saya via Facebook. Sampai-sampai saat sebelum tulisan saya akhirnya pecah telur bisa dimuat di majalah anak nasional, ilmunya ya saya peroleh dari para penulis senior itu.
Oh iya, hampir semua interaksi saya di Facebook atau internet, untuk urusan belajar menulis, saya lalui dari sebuah ponsel. Jadi keberadaan hp dengan kemampuan akses internet dan media sosial itu begitu menolong karir saya di bidang kepenulisan.
Selebihnya, saya membuat tulisan di netbook dan pergi ke warnet untuk urusan selanjutnya. Waktu itu, saya belum punya modem sehingga tergantung dengan warnet.
Dalam proses belajar menulis, pernah suatu ketika saya memposting dua cerpen anak karya saya di Facebook. Lalu saya menandai beberapa penulis senior untuk membaca dan memberi masukan.
Ilmu dari mereka saat mengomentari tulisan saya tersebut yang lantas saya pakai untuk membenahi cerpen-cerpen saya selanjutnya.
Berbagai interaksi sarat ilmu juga saya dapatkan dari grup-grup kepenulisan. Misalnya grup Penulis Bacaan Anak.
Alhamdulillah, tak lama kemudian cerpen-cerpen saya bisa terbit di media seperti majalah Bravo, Bobo, Girls, Mentari, sampai Kompas Anak.
Titik inilah yang membuat saya akhirnya hingga kini lebih sering mengisi blog dengan berbagai cerpen. Terutama cerpen anak.
Hal yang membahagiakan tentu saja kalau mendapat respon positif dari pembaca blog. Seperti dari mereka yang sangat berterima kasih karena bisa punya bahan bercerita dengan anak-anaknya atau murid-muridnya di sekolah.
Atau, dari mereka yang bisa belajar bagaimana membuat cerpen yang bisa tembus ke media lewat cerpen-cerpen saya yang pernah dimuat di media dan saya unggah ulang di blog.

Belajar dengan Permainan

Bermain Who Wants To Be Millionaire
Keseruan para siswa saat bermain Who Wants To Be Millionaire yang pertanyaannya berasal dari materi pelajaran Ekonomi

Di kemudian hari nyatanya, usaha saya untuk menjadi penulis lepas tidak bisa dengan penuh saya lakoni. Karena orang tua minta saya bekerja di luar rumah, jadilah saya melamar kerja lagi.
Kali ini pada akhirnya, Allah memberi kesempatan saya untuk kembali ke bidang ilmu kuliah saya yang sesungguhnya. Menjadi guru ekonomi di SMA.
Karena sudah beberapa tahun sejak lulus kuliah saya tidak update ilmu, lagi dan lagi, penolong saya adalah internet. Dari seorang teman, saya jadi tahu ada yang namanya kursus online bernama Coursera. Pengajarnya dari universitas-universitas keren internasional. Bidang ilmunya pun bisa dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, saya mengambil beberapa ilmu berlabel Economics.
Sewaktu menjadi guru di SMA Global Islamic Boarding School Kalimantan Selatan itulah, saya juga kembali menjadikan internet sebagai sumber inspirasi. Dari sekian permainan atau metode mengajar ke siswa, sepertinya permainan yang dijalankan dengan netbook saya yang banyak mereka minati.
Misalnya permainan Who Wants to be Millionaire, Are You Smarter Than Fifth Grader, atau Tic Tac Toe. Ada juga permainan balap mobil. Sistemnya, siapa yang menjawab benar, mobil dialah yang dapat giliran melaju.
Permainan semacam ini banyak macamnya dan tinggal saya unduh saja dari internet. Pertanyaan-pertanyaannya bisa saya sesuaikan dengan materi pelajaran.
Siapapun memang suka bermain. Apalagi anak-anak. Dan dengan cara seperti ini, saya amati, hampir tidak anak yang malah memilih tidur atau malas-malasan di kelas.
Pengamatan saya terhadap anak-anak pun kerap hasilnya saya tulis di blog. Apalagi yang inspiratif.
Misalnya suatu ketika, saya terkesan dengan seorang anak yang dulunya tidak berprestasi di kelas, cenderung pemalu dan pasif, tapi kemudian di semester-semester berikutnya, dia justru membalikkan keadaan.
Saat saya tanya-tanya, rupanya dia punya cara memotivasi diri sendiri. Ia tulis kata-kata motivasi yang ia buat di kertas kecil, lalu ditempel di dinding dekat tempat tidurnya. Setiap harinya saat bangun, membaca tulisan itu, alam bawah sadarnyalah yang ikut bekerja.
Karena tak ingin melupakan kisah tersebut, maka saya tulislah di blog. Berharap bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Berbagi Profil Inspiratif

Logo blog imsusanti dot com
Logo blog imsusanti dot com yang saya buat lewat ponsel dengan aplikasi Picsart

Kini saat punya blog berdomain dot com, blog yang saya tekuni saat saya melabeli diri sebagai seorang blogger, sebetulnya saya sempat kebingungan juga mencari ide untuk mengisi blog.
Lalu teringatlah tentang cerita-cerita semasa saya bekerja yang tercecer di sepanjang masa dan belum sempat saya tulis. Dalam agenda jadwal posting blog, cerita-cerita itu yang saya agendakan.
Selain itu, saya juga terpikir untuk mencoba mengaplikasikan ilmu sewaktu di Tribun Batam. Tentang cara menulis yang bermanfaaat bagi para pembaca. Dan pilihan saya pun jatuh pada ide, bagaimana jika saya menuliskan biografi tentang orang-orang yang saya kenal, di sekitar saya, yang bisa jadi kisah inspirasi bagi banyak orang.
Sayangnya, hingga kini jadwal postingan yang saya buat masih sulit saya wujudkan. Mungkin terkesan excuse. Saya punya balita, dengan kondisi yang agak berbeda dari kebanyakan anak. Ia begitu membutuhkan perhatian saya selama 24 jam.

Nah, bisa ditebak kan, semua yang telah saya lakukan itu peran utamanya adalah internet. Iyap, saya memang sangat terbantu dengan kehadiran internet.
Seperti cerita profesi saya dari masa ke masa, kecanggihan internet dari waktu ke waktu pun memengaruhi bagaimana saya berinteraksi dengan internet. Mulai dari yang zamannya masih tren mailing list dan hp belum bisa dipakai internet, sampai yang sekarang sudah berteknologi 4G LTE dan bisa berinternet dengan kecepatan wush!
Jika dulu saya begitu tergantung dengan koneksi internet dengan PC, seiring waktu saya bisa mengaksesnya lewat hp. Bahkan saya bisa melakukan banyak hal lainnya hanya dengan menggenggam hp di tangan. Misalnya belajar lewat kursus online, mencari bahan dan membuat tulisan, atau berinteraksi dengan sesame penulis atau blogger untuk bertukar ilmu.
Kecanggihan teknologi internet seperti adanya XL4GLTE, bisa membuat saya makin berkualitas dalam berkarya. Di balik itu saya pun berharap, semoga karya-karya saya bisa memberi arti bagi banyak orang, selain sebagai cara saya untuk mengingat bahwa saya pernah melewatkan momen-momen penuh inspirasi untuk diri saya sendiri.
Satu hal yang saya sadari di kemudian hari, sepertinya Allah menjadikan saya kutu loncat pekerjaan untuk bekal menulis di waktu sekarang dan yang akan datang. Untuk sebuah blog gado-gado bernama imsusanti.com.

 

Flyer Lomba Blog KEB 2017

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

23 thoughts on “Blog Gado-gado? Mungkin Saja Pemiliknya Si Kutu Loncat Pekerjaan Seperti Saya

  1. Blog aku juga gado-gado mba. Karena klo ber niche aku malah bingung nulisnya. Hehehe

    Wooww banyak sekali mba pengalaman kerjanya. Aku dari semenjak lulus kuliah (2005) sampai sekarang, baru pindah ke 3 tempat.

  2. Saya masih ingat ini, mbak yang waktu diwawancarai soal cicak ya… hehehehe

    Saya juga suka gado-gado, apalagi kalau ditambah kerupuk, jadi enak banget deh. gak nyambung yah. heheheh

  3. Waaaaa.. pengalamannya gado-gado yaa.. Saya sedang menuju tahap itu juga nih. Kalau saya dari jurusan teknik, tapi pekerjaan pertamanya jurnalis. Hehehe.. Kayaknya dari jurnalis memang bisa mental ke mana-mana yaa πŸ˜€

  4. Pengalaman yang rameee…dan gado-gado-gado banget! πŸ˜€
    Blogku juga gado-gado. Selain karena minatnya yang emang ke mana-mana, juga karena aku suka makan gado-gado πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *