Di Balik Liputan Kuliner

Di Balik Liputan Kuliner

Posted on Posted in Catatan Reporter

Di Balik Liputan Kuliner

Ada dua macam liputan yang paling saya suka. Kalau nggak jalan-jalan, ya urusan kuliner!

Jika meliput tempat hiburan atau rekreasi, meskipun dalam kondisi meliput, tetap saja terkadang bisa kecipratan sedikit yang namanya menikmati fasilitas rekreasi itu sendiri.

Sedangkan bila liputan kuliner, serunya ya apalagi kalau bukan karena urusan makan-makannya.

Belum lagi jika itu terkait dengan menu baru yang akan diluncurkan sebagai produk baru dari suatu tempat. Hm… nyam nyam rasanya!

Pernah juga saat dulu, saya bisa membawakan beberapa toples makanan kecil untuk diserbu oleh teman-teman di ruang redaksi.

Ini gara-gara tempat yang saya liput, membolehkan saya membawa aneka bentuk makanan kecil yang resepnya akan saya tulis.

Beruntungnya, saya hari itu sedang merayakan ulang tahun. Setelah seharian bingung memikirkan dana dan apa yang akan saya beli untuk teman-teman di ruang redaksi, eh… ternyata Tuhan memberikan saya jalan dengan bingkisan dari tempat yang usai saya liput kulinernya!

Tapi, pernah juga saya sampai kapok setengah mati gara-gara urusan liputan kuliner.

Kejadian pertama adalah ketika diminta meliput Japanese Food di sebuah hotel.

Buat saya yang saat itu belum pernah mencicipi masakan Jepang, ya semangat-semangat saja. Apalagi bisa gratis makan. Hore!!!

Nyatanya, lidah saya tidak cocok sama sekali dengan citarasa masakan tersebut.

Sampai-sampai saya heran setengah mati, apa sih yang bisa dinikmati dari masakan yang terasa kurang bumbu itu?

Yah, mungkin itu dikarenakan lidah saya yang sejak kecil paling kenal dan suka dengan segala masakan yang kaya akan citarasa bumbu kali ya?

Belum lagi saat disodorkan sebentuk krim berwarna hijau yang konon katanya menjadi sambal a la orang Jepang. Wasabi, nama itu tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Awalnya karena saya maniak dengan sambal, saya cocol saja cumi berbalut tepung ke sebentuk wasabi.

Waktu makanan itu saya gigit dan teraba oleh lidah saya, hua… setengah mati saya tahan rasa mual yang tiba-tiba menjalar.

Sementara itu kepala koki yang menawari dan mengenalkan saya dengan wasabi malah senyum manis sambil berkata, “Bagaimana, enak bukan?”

Karena saya adalah tamu dan orang yang notebene sudah diajak makan gratis, dengan penuh kesopanan, saya anggukan saja kepala saya tanda iya sembari tak lupa untuk tersenyum.

Padahal aslinya, lidah saya sudah terasa gatal dan mulut pun ingin menumpahkan sebentuk makanan yang rasanya tak ingin saya telan.

Sejak itulah jika menyaksikan tayangan acara masak-memasak di televisi, saya selalu berpikir nasib si juru liput. Atau, orang yang jadi tamu acara tersebut dan ketiban nasib dimintai sang koki untuk mengicipi masakan.

Coba saja lihat di televisi acara masak memasak di mana si koki akan menodongkan pertanyaan, “Bagaimana, enak?”

Bagi saya, ini kalimat tanya tapi seperti mengandung perintah.

Pastinya, pertanyaan tadi akan dijawab dengan anggukan, mata mengerjap-kerjap tanda menikmati, dan gerakan kunyahan yang menunjukkan jika masakan itu rasanya enak di lidah si pencicipnya.

Kalau sampai dijawab enggak, beuh… bisa panjang jendral urusan pertelevisian dan honor selanjutnya!

Yah, kita memang tidak pernah bisa tahu hati, pikiran dan lidah seseorang.

Pernah terpikir nggak, bagaimana jika si pengicip itu tidak merasa nyaman lidahnya? Sementara bila jujur, tentunya sangat tidak mengenakkan bagi sang koki.

Belum lagi urusan pengambilan adegan. Pasti lah, si pengicip itu sadar diri untuk dituntut menunjukkan ekspresi menikmati masakan pengundang selera yang harus selalu ditunjukkan.

Kali ke dua saya merasakan kapoknya liputan kuliner adalah ketika menemani Bu Maria, seorang narasumber saya yang sangat baik hati mengenalkan saya pada berbagai aneka pembuat masakan dan mengajak saya borongan liputan kuliner.

Pertama-tama tentu senang rasanya. Karena itu artinya, beberapa edisi mingguan berikutnya, saya tidak lagi harus repot-repot untuk mencari tempat liputan kuliner ke sana sini.

Saat itu Bu Maria mengajak saya meliput di tiga dan empat tempat penjaja makanan di dua hari yang berbeda.

Karena di tempat-tempat tersebut saya disuguhi masakan yang sudah dimasak khusus untuk saya liput, tentunya saya tidak bisa jika hanya sekedar mengicipi saja sebagai bahan tulisan.

Aturan mainnya, makanan-makanan itu harus saya makan sampai habis di tempat. Atau pilihan lainnya, ya saya bawa pulang!

Kejadian itupun membuat lidah saya hari itu pusing mencicipi aneka masakan berbeda-beda.

Ini benar lho. Baru kali itu saya merasa lidah bisa punya rasa pusing! Sampai-sampai hampir mati rasa lidah deh!

Sedangkan urusan harus membawa semua masakan hasil liputan, membuat saya pulang ke kantor bak seorang pengantar katering!

Usai liputan, di motor saya penuh dengan gantungan plastik berisi wadah-wadah styrofoam yang kesemua isinya adalah makanan.

Sampai di kantor, keberuntungan pun lantas beralih ke teman-teman saya. Mulai dari pos satpam sampai redaksi, kebanyakan sangat tidak akan menolak ketika saya minta untuk mengambil makanan yang saya bawa.

Sementara itu di hari-hari berikutnya, pusing saya pun makin bertambah karena bingung memilih menulis liputan kuliner yang akan turun di edisi hari minggu. Setiap narasumber maunya minta ditulis dan dimuat leih dulu.

Belum lagi usaha menggali ingatan tentang rasa yang telah dicecap oleh lidah saya. Kan lucu saja kalau masakan yang harusnya ditulis rasa gurih lalu saya tulis asam manis.

Meliput kuliner memang tidak sembarang hanya mencatat keterangan dari si pembuat masakan. Butuh kepekaan lidah untuk mengira-ngira rasa apakah manis, gurih, asam, atau pedas.

Lantas bila ada sebuah rasa yang cenderung dirasa kuat di lidah, itu berarti waktunya untuk bertanya tentang mengapa masakan tersebut bisa demikian.

Istilahnya, menanyakan bumbu apa yang memang menjadi peran utama dalam membuat masakan tersebut.

Wawancaranya pun tidak bisa asal begitu saja. Karena terkadang, para reporter kuliner harus berhadapan dengan para pemasak yang cuma tahu takaran kira-kira, bukan asli berdasarkan resep yang pakem.

Kalau sampai ketemu koki yang seperti itu, waktunya reporter harus terpaksa menjelma jiwa jadi koki. Gunakan intuisi, rasa, kepekaan lidah, dan kepala bertopi koki. Seperti pesan tidak tertulisnya.

Pernah juga nih ada cerita lucu tentang teman reporter yang meliput kuliner.

Sewaktu si narasumber menyebutkan dalam resepnya menggunakan lengkuas, teman saya lalu bertanya, “Lengkuasnya berapa lembar?”

Tentu saja, si koki jadi tertawa. Masa iya lengkuas yang tergolong dalam bumbu berbentuk umbi-umbian dan biasanya ditakar dengan ukuran ruas, lalu ditanya berapa lembar?

Tuh kan, jadi yang namanya meliput kuliner itu bukan hal sepele. Urusan membedakan mana jahe, lengkuas, daun salam, dan daun jeruk pun bisa jadi hal yang penting.

Dan gara-gara urusan liputan kuliner juga pada akhirya saya jadi banyak belajar tentang seputar kuliner.

Mulai dari tips-tips cara memasak, fungsi bumbu ini itu untuk rasa yang seperti apa, sampai istilah-istilah kuliner.

Tidak jarang, waktu itu saya kerap disodorkan resep berupa bahasa Inggris dari sang koki.

Awalnya sih saya pikir sepele. Tapi ternyata, mengalihbahasakan resep itu justru jadi pengalaman yang bisa dikatakan paling sulit daripada menerjemahkan bidang lain seperti ekonomi bahkan elektronika!

Ceritanya pernah kala itu, saya dipusingkan dengan istilah lemon grass. Jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia begitu saja, memang sih artinya bisa menjadi rumput lemon. Nah lho, mana ada kan bumbu bernama itu?

Walhasil, urusan mengetik resep yang biasanya jadi bagian paling mudah di saat tenggat waktu dari redaktur yang makin mepet, justru sedikit runyam kala itu.

Sibuklah saya mencari ke internet tentang arti dari lemon grass. Redaktur dan orang seruang redaksi pun tidak tahu apa itu lemon grass.

Payahnya lagi, waktu itu saya tidak memiliki nomor Pak Koki yang sudah memberikan saya tulisan resep ajaib tersebut! Tentu saja saya jadi tidak bisa konfirmasi.

Beruntung hasil pencarian di internet setelah sekian waktu itu membuahkan hasil. Setelah kata yang saya cari itu dapat saya temukan, tinggallah saya yang terbengong-bengong mengorelasikan kata antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Bengong cantiknya waktu itu karena… bagaimana ceritanya ya orang luar negeri memakai istilah lemon grass untuk sereh?

 

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

4 thoughts on “Di Balik Liputan Kuliner

  1. Aku bisa membayangkan rasanya saat kamu menelan wasabi, Mbak, soalnya dulu pertama kali nyobain wasabi, astaga, rasanya pengen ambil air segentong. Tapi berhubung masih di tengah orang banyak, gengsi banget klo sampai ngaku nggak bisa makan… hahaha….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *