Belajar Ilmu Aji dari Sosok Teman Kerja

#MemesonaItu… Belajar Ilmu ‘Aji’ dari Sosok Teman Kerja

Posted on Posted in Coretan Pikiran, Naskah Lomba, Opini

Belajar Ilmu Aji dari Sosok Teman Kerja

Ada yang pernah nonton film seri Quantum Leap?

Hihihi, ketahuan banget ya jadulnya kalau menyebutkan film seri yang tayang tahun 1989 sampai 1993 ini. Kayaknya cuma anak 90-an nih yang tahu!

Buat yang belum tahu atau lupa, film seri ini bercerita tentang tokoh bernama Sam Becket yang hampir di tiap episode, berpindah-pindah tubuh serta meloncati dimensi yang berbeda-beda.

Film Quantum Leap
Sumber foto dari sini

Sam ini aslinya seorang ilmuan yang bekerja untuk sebuah proyek rahasia Amerika Serikat. Ia lalu jadi kelinci percobaan proyeknya sendiri.

Nah, Sam dibantu sama temannya yang bernama Al Calavicci. Al menemani Sam melintasi ruang dan waktu dengan muncul sebagai hologram yang hanya dapat diketahui Sam. Di tiap peran, Sam harus menyelesaikan masalah dari orang yang sedang ia masuki tubuhnya.

Uniknya, Sam ini pernah ada di tubuh pada Al masa lalu, tubuh seorang wanita, sampai seekor simpanse!

Yang saya suka dari Quantum Leap itu, film ini seru dan penuh kejutan di setiap episodenya karena ada misi yang selalu beda.

Eh… ndilalah sewaktu kerja, kok ya saya sempat mengalami kondisi yang mirip si Sam di Quantum Leap.

Tentunya nggak sampai yang namanya jadi simpanse atau masuk ke tubuh pria sih. Tapi, beda-beda peran, beda cerita, beda misi yang harus saya lalui, alias kutu loncat profesi sana sini, membuat saya punya cerita dan kenangan tersendiri.

 

Cerita si kutu loncat yang suka pindah pekerjaan bisa dilihat di sini

 

Dulu, saya pernah melakoni peran jadi reporter, mengajar mahasiswa, anak PAUD, sampai anak SMA.

Beda-beda profesi itu membuat saya punya tuntutan peran yang juga beda-beda.

Pun bagaimana membuat dan membangun pesona bagi orang lain yang terkait dengan profesi kita.

Pesona? Maksudnya daya pikat?

Iya sih, kalau di kamus, kata pesona bisa identik dengan daya pikat.

Tapi bukannya yang harus pakai jampi-jampi ke dukun juga kali ya!

Yang saya maksud, kita bisa diterima dengan enak saat berkomunikasi dengan orang lain karena apa yang kita tunjukkan. Kalau kita punya pesona bagus, orang kan suka enak jadinya waktu kita ajak komunikasi.

Kalau pada wanita, yang sering jadi sorotan itu adalah penampilan.

Kata orang, people judge by the cover. Dan menurut saya, hampir 100 persen istilah itu benar…

Di empat peran yang akan saya ceritakan nanti, saya belajar dari pengalaman teman kerja sekaligus sahabat saya.

Tidak hanya urusan penampilan yang saya dapati dari mereka. Tapi bagaimana karakter teman-teman saya tersebut hingga mereka lebih diterima oleh banyak orang dalam lingkungan kerja.

Sementara di film seri Quantum Leap, Sam punya Al yang jadi pemandunya, di kehidupan nyata, saya tentunya nggak punya sosok Al.

Teman kerja dan sahabat saya ituah yang menurut saya menjadi Al, orang-orang yang pada akhirnya sedikit banyak jadi bahan perenungan buat saya memerbaiki diri.

 

Cantik dan Pintar Mensiasati Kondisi

Jadi reporter perempuan, wangi, penampilan cantik?

Sepertinya itu hanya ada di jurnalis televisi kali ya. Atau reporter media wanita dan remaja perempuan yang meliput bidang mode dan kecantikan.

Itu sih pikiran saya waktu awal jadi reporter.

Di tahun 2004, Tuhan mengirim saya untuk memasuki peran jadi reporter di sebuah koran harian di Batam.

Awalnya, saya diletakkan di bagian peliputan yang nggak khusus. Kadang meliput ke penjara, ke salon kecantikan, ke mall, ke perkampungan rumah liar, pokoknya macam-macam deh.

Lama-lama, koordinator liputan banyak menugaskan saya meliput hal-hal berbau gaya hidup atau seni budaya. Hingga kemudian di akhir-akhir peran saya di profesi reporter, saya diletakkan di bagian khusus edisi mingguan yang terkait dunia remaja, wanita, dan keluarga.

Yang namanya media umum, jumlah pria di lingkungan kerja saya lebih banyak dari pada kami yang wanita ini.

Saya sendiri karena bawaan dasarnya tomboi, jadinya ya suka tampil seenaknya. Modal penampilan saya sering di seputar celana jeans, kaos oblong, dan jilbab seadanya. Kalau pas acaranya yang diliput agak formal, baru lah saya keluarkan baju yang agak resmi.

Penampilan saya waktu liputan ke pulau
Saat berangkat meliput ke pulau Air Mas di sekitaran Batam

Urusan make up? Apalagi…

Bagi saya, dunia kerja reporter itu membuat saya sangat bisa semau saya sendiri yang memang dasarnya nggak hobi pakai make up. Pakai bedak saja bisa seadanya. Bahkan kalau ingat! Hahaha…

Tapi, pandangan saya soal penampilan ini makin lama makin berubah.

Ceritanya, meski urusan liputan itu sudah dibagi-bagi sama koordinator liputan, atau tiap reporter sudah ada narasumber yang ‘langganan’ untuk ditemui, tapi nyatanya nggak seperti itu juga.

Kadang saya merasa sering ada persaingan antar reporter sendiri, teman satu kantor sendiri untuk urusan bisa atau nggak mendapatkan kesempatan liputan tertentu.

Dan orang yang sangat saya anggap rival itu adalah sahabat dekat saya sendiri. Namanya Tari.

Dengan Marissa Haque
Saya dan Tari waktu meliput Mbak Marissa Haque

Menurut saya, Tari itu punya sex appeal. Anaknya emang cantik. Dan sepertinya Tuhan menciptakan sosok Tari untuk bisa langsung mendapat perlakuan ramah dari siapapun sejak awal bertemu dengan Tari. Terutama kaum pria.

Sebagai sesama perempuan, saya akui, kadang saya kesal menyadari fakta yang satu ini. Tapi kalau disuruh urusan harus jadi cantik, awalnya saya masih keras kepala untuk nggak mau merubah diri saya yang suka tampil tomboi. Dan saya juga sadar, fisik saya memang tidak secantik Tari.

Tapi lambat laun, pikiran saya berubah seiring saya makin dekat dengan Tari dan menyadari apa yang membuat Tari lebih banyak disukai dan diterima oleh orang lain.

Tidak hanya punya wajah yang putih dan cantik, Tari juga menjaga penampilannya. Hampir tidak pernah saya melihat Tari tampil seadanya. Bedak atau minimal pelembab bibir selalu ia kenakan. Di luar waktu liputan, Tari juga suka menjaga kesehatan dan kecantikan tubuh dan wajahnya.

Demikian juga untuk urusan penampilan. Gaya baju Tari selalu modis. Meski sama-sama modalnya jeans dan kaos, tapi Tari bisa tampil rapi. Ini sisi plus dia yang lebih di atas saya yang kadang suka seenaknya.

Urusan perbandingan, tentu siapapun menilai Tari lebih baik dari saya. Itu dari segi penampilan.

Tapi tak hanya itu hal menarik yang saya temui dari sosok Tari. Kalau di beberapa literatur bilang sex appeal itu juga untuk urusan kepribadian, dan juga bahasa tubuh, Tari juga memilikinya.

Siapapun suka dengan Tari karena anaknya ramah ke siapa saja. Sangat jarang banget saya menjumpai Tari dengan gaya jutek, judes, atau emosional. Bahkan dari awal kenal Tari lewat sms, gaya bahasanya saja sudah terlihat ramah.

Satu lagi yang paling memesona saya tentang sosok Tari. Anaknya cerdas dan punya akal panjang!

Untuk penugasan liputan apapun yang ia dapatkan, Tari tidak langsung menerimanya begitu saja. Sebelum turun ke lapangan, dia selalu memikirkan caranya dulu. Meski itu untuk liputan yang on the spot diberikan ke padanya.

Beda banget sama saya apa-apa kadang langsung panik duluan. Nggak berpikir panjang dulu dan sering bertindak spontan.

Saya sering dibuat takjub dengan cara Tari mensiasati kondisi kepepet. Misalnya, redaktur menugaskan liputan yang kondisinya nggak mendukung. Bisa karena tempat jauh, kondisi sedang hujan deras, atau sedang berbarengan dengan liputan di tempat lain. Ujung-ujungnya, ya bisa tuh liputanya tetap ia kerjakan. Dengan 1001 cara cerdasnya.

Kalau versi film Quantum Leap, Tari itu kayak dikirim Tuhan buat jadi Al untuk saya. Empat setengah tahun kenal dekat dengan Tari membuat saya banyak belajar untuk memerbaiki diri.

Mulai belajar modis dari Tari
Waktu jalan bareng Tari ke Singapura. Mulai belajar modis ceritanya…

 

Bersahabat dan Berwibawa

Lepas dari posisi reporter, Tuhan mengirim saya menjadi sosok dosen yang harus berhadapan dengan mahasiswa. Kebanyakan mahasiswa saya waktu itu dari usia remaja yang baru lulus kuliah.

Saya yang awalnya suka tampil ‘semau gue’ akhirnya ya jadi harus berubah. Nggak bisa lagi dong tampil pakai jeans belel dan kaos oblong. Bahkan saya harus kembali belajar menggunakan sepatu cantik dengan hak yang rasanya terakhir kali saya kenakan waktu praktek mengajar semasa zaman kuliah.

Untuk urusan make up, di awal-awal, saya kadang masih susah untuk terbiasa pakai bedak dan lipstik. Kalau buru-buru mengajar ke kampus, bisa jadi tuh cuma bedakan pakai bedak bayi ala kadarnya.

Yang membuat sadar saya harus merubah diri saat jadi dosen itu karena mahasiswa saya kebanyakan sering menyangka saya teman kuliahnya sendiri!

Maksudnya seperti kejadian begini ini…

Ada mahasiswa telat lalu masuk ke kelas. Terus langsung nyelonong saja duduk. Pas sadar saya sedang duduk di bangku mahasiswa karena menyimak mahasiswa saya yang sedang presentasi di depan, tuh mahasiswa telat lalu bilang begini, “Eh Ibu, maaf Bu… Saya kira tadi anak kuliah juga. Jadi saya nggak tahu.”

Glek!

Iya sih, badan saya waktu itu memang bisa dibilang terlalu langsing dan nggak seperti ibu-ibu dosen kebanyakan. Bahkan waktu naik angkot saja kadang disangka masih anak sekolah.

Belum lagi untuk urusan penampilan. Banyak dari mahasiwi saya waktu itu yang penampilannya lebih cakep dari pada saya.

Kalau mahasiswi pakai bedak dan lipstik sih sudah wajar ya. Begitu juga sepertinya untuk urusan pakai eye liner, blush on, maskara, atau eye shadow.

Sementara saya yang dosennya, cuma pakai bedak biasa yang malah kadang pakai bedak bayi yang saya usap gosok dengan telapak tangan.

Akhirnya karena sering dipandang sebelah mata karena urusan penampilan, lama-lama saya jengah juga.

Dengan mahasiswa Politeknik Batam saat berkunjung ke Camp Vietnam Pulau Galang
Dengan mahasiswa Politeknik Batam saat berkunjung ke Camp Vietnam Pulau Galang. Lha gaya dosennya aja kayak gini e…

Kalau di profesi reporter saya punya Tari, di profesi dosen, Al-nya saya itu lagi-lagi dari sahabat saya sendiri.

Namanya Ici. Dia dosen bahasa Inggris, satu ruang kerja mata kuliah dasar umum dengan saya, yang di kemudian hari bahkan jadi teman satu kamar kos saya.

Kalau urusan penampilan, sebetulnya Ici yang usianya beda beberapa bulan lebih tua dari saya itu juga nggak glamor banget.

Urusan make up, Ici hanya menggunakan bedak dan kadang pelembab bibir saja. Tapi yang membuat saya dan Ici berbeda adalah penampilan baju.

Baju-baju Ici selalu tampil feminin. Lebih sering menggunakan rok dan atasan yang formal. Kalaupun pakai celana, ia sering memadupadankan dengan tunik panjang yang formal. Gaya jilbab Ici pun rapi. Ia selalu menyematkan bros di jilbabnya.

Dengan kru MKDU Polbat
Ici yang ada di sebelah saya

Beda dengan saya yang andalannya sering pakai celana panjang dan tunik biasa. Di kemudian hari saja pada akhirnya saya punya blazer dan kadang memakainya. Sedangkan untuk urusan jilbab, saya masih sering berjilbab seadanya. Idola saya ya jilbab sekali masuk kepala yang nggak perlu dipelintir sana-sini.

Itu dari segi penampilan. Dari segi sikap, saya juga seenaknya. Memang kalau disuruh bersikap formal ke mahasiswa, saya suka susah. Bawaanya maunya menyandingkan mereka seperti teman saja. Sering saya duduk nongkrong di bawah dengan mahasiswa saya.

Tapi untuk bisa dekat dengan mahasiswa, yang saya sadari di kemudian hari, saya nggak berarti harus seenaknya juga. Ada saat-saat di mana saya bisa jadi teman, tapi di saat lain saya harus sadar, saya adalah dosen mereka.

Itu yang saya pelajari dari Ici. Bukan berarti maksudnya mahasiswa harus takut dan selalu hormat. Tapi menempatkan diri siapa dosen siapa mahasiswa justru membuat tujuan komunikasi yang seharusnya jadi lebih mengena. Ini terutama urusannya saat menyampaikan materi atau menjelaskan hal penting ke mahasiswa.

 

 

Menjadi Ibu dan Teman yang Sabar

Setelah menghadapi usia anak remaja, peran yang dikasih Tuhan ke saya selanjutnya adalah anak-anak balita! Hihihi… jauh banget ya rentang usianya?

Profesi saya selanjutnya adalah menjadi kepala sekolah sekaligus pengajar di taman penitipan anak. Anak-anak yang harus saya hadapi mulai dari yang usianya empat bulan, sampai yang usinya usia lima tahun.

Sebagai orang yang waktu itu belum berkeluarga, belum punya anak, agak bingung juga pada awalnya harus seperti apa ke para balita yang ada di tempat penitipan anak.

Waktu awal datang ke TPA, saya melihat barisan anak-anak balita yang sedang berjalan berbaris main kereta-keretaan untuk antri ke toilet.

Dalam bayangan saya waktu itu, oke, inilah tantangan saya selanjutnya! Dan sedetik kemudian sempat saya ragu, saya harus bagaimana menghadapi anak-anak ini?

Dengan anak-anak daycare
Wefie sama anak-anak taman penitipan anak

Sebagai referensi peran, akhirnya saya jadi hobi nonton The Nanny 911. Acara yang waktu itu tayang di salah satu stasiun TV itu membuat saya berkesimpulan, “Oh, menghadapi anak itu harus bisa jadi ibu, ya teman ya? Kadang harus jumpalitan main bareng dengan mereka, kadang juga harus bisa tegas ya?”

Jadinya saya sering tuh memang harus jumpalitan dengan anak-anak. Ya main perang-perangan, mengajak mereka mengamati ulat bulu di tanah kosong, atau tiduran bersama sambil membacakan cerita.

Nah, di tempat kerja saya yang ini, saya suka kagum dengan sosok seorang pengasuh yang sering saya panggil Mbak Susi.

Kalau di awal peran saya sering merasa bingung peran karena menyadari diri masih lajang, pada akhirnya saya sadar, saya tidak sendirian.

Mbak Susi dan anak-anak
Mbak Susi dan anak-anak di taman penitipan anak

Mbak Susi ini usianya jauh lebih muda dari saya. Kalau tidak salah ia lebih muda tujuh tahan dari saya. Sama-sama waktu itu masih belum berkeluarga apalagi punya anak.

Tapi kalau urusan momong bocah, Mbak Susi ini jagonya. Mulai dari anak bayi sampai yang besar bisa dia tangani. Orangnya keibuan dan sabar.

Kalau ada anak nangis atau merasa punya masalah di penitipan anak, mesti larinya kalau nggak ke saya yang ke Mbak Susi.

Jika saya kadang bisa suka gemas sambil mengendikkan bahu kalau melihat polah anak yang menguji kesabaran, ada anak berantem sampai saling gigit dan nangis teriak-teriak, Mbak Susi malah selalu bisa tersenyum bahkan tertawa sambil menangani mereka.

Begitu juga untuk urusan kerja yang lain. Bisa dibilang, Mbak Susi itu tangan ke dua saya di penitipan anak. Kalau pas saya banyak kerjaan administrasi, Mbak Susi kerap menemani saya dengan sambil dengan gaya senyam-senyumnya.

Juga kalau saya sedang cari teman berpikir bagaimana untuk menjalankan taman penitipan anak. Mbak Susi kerap memberikan saya usulan ini dan itu sebagai jalan keluarnya.

Sering saya sering berpikir, “Hidupmu kok kayaknya tenang banget tho Mbak sampai semua-semua bisa dihadapi sambil senyum saja.”

Memang sih, saya yang sadar diri kadang suka terbawa emosi itu jadinya selalu angkat jempol banyak kalau sampai bisa mendapati orang yang bisa menangani apapun dengan cara tenang.

 

 

Multiperan, Multikarakter

Kalau saya sampai harus melakoni peran ini itu sebelumnya, pada akhirnya saya sadar, di profesi yang satu ini lah semua pengalaman tadi harus saya gunakan.

Pada suatu titik, saya akhirnya diletakkan Tuhan menjadi seorang guru di sebuah SMA berasrama baru di Kalimantan Selatan. Sehari-hari, anak-anak usia remaja itulah yang harus saya hadapi.

Pengalaman jadi dosen membuat saya sadar, saya harus memerhatikan urusan penampilan. Harus tampil rapi yang nggak asal-asalan. Apalagi sekolah tempat saya mengajar waktu itu punya seragam guru yang penampilannya membuat saya dikomentari teman yang melihat foto saya, “Seperti pegawai bank!”

Kalau sedang rajin sama penampilan
Kalau sedang rajin sama penampilan

Pasalnya, seragam itu membuat kami guru perempuan harus mengenakan seteah blazer dan rok span, jilbab yang dimasukkan ke dalam kerah karena kami harus mengenakan dasi.

Sementara di lapangan, saat mengajar, saya suka gerak ke sana sini apalagi saat memegang kelas anak cowok. Sedikit repot? Huhuhu, iya kalau buat saya!

Tapi kadang kalau sedang mood baik, saya bisa lho peduli banget sama urusan penampilan. Mulai dari taat asas sama urusan seragam yang harus berdasi, pakai make up sampai ke eye liner dan maskara, serta jilbab yang saya pluntar pluntir sana sini.

Tapi bukan penampilan semata itu yang memesona murid saya. Malah ada murid saya yang protes saat melihat seorang calon guru baru tes dengan penampilan modis. Katanya, dia tidak mau melihat gurunya seperti model hijaber!

Dalam hati saya membatin, untung hobi saya mengikuti tren gaya hijab hanya kumat saat anak-anak itu belum ada di sekolah. Hahaha…

Dan di sekolah itu, ada sosok yang diam-diam kembali saya jadi ‘Al’ untuk peran saya. Namanya Nina. Dia sahabat dan juga rekan guru di sekolah itu.

Bicara penampilan terlebih dahulu, Nina ini suka tampil rapi apapun kondisinya. Meskipun itu urusannya waktu itu kondisi sekolah yang belum baik prasarananya saat anak-anak belum ada, atau bahkan saat harus menjenguk siswi yang sakit dengan menggunakan klotok atau perahu. Nina tetaplah tampil enak dilihat.

Nina dan perjuangan berangkat mengajar waktu awal sekolah berdiri
Nina saat berangkat ke sekolah waktu prasarana sekolah belum sempurna

Dan di mata murid-murid saya, Nina adalah sosok yang begitu keibuan, bisa jadi sahabat, dan selalu enak diajak komunikasi.

Kalau ada anak-anak yang mengeluh masalah sekolah, biasanya mereka sering mengadu ke Nina. Di mata saya sendiri, Nina memang pendengar yang baik.

Tak heran, di tingkat hasil evaluasi murid tentang guru yang disukai, peringkat Nina tinggi. Lebih tinggi dari saya meski kami sama-sama masuk peringkat lima besar.

Kunci alasan kenapa Nina begitu memesona para murid dan juga rekan kerjanya menurut saya ada pada karakternya yang harus sebisa mungkin do the best pada hal apapun. Nina memang punya karakter perfeksionis. Tapi apa yang dia lakukan termasuk berusaha terbaik untuk dan di hadapan orang lain membuat ia sering lebih diterima siapapun.

 

 

Intinya #MemesonaItu…

Orang Jawa punya kata-kata bijak seperti ini:

Ajining diri gumantung ing lathi

Ajining rogo gumantung ing busono

Ajining awak gumantung tumindake

Sebagai orang Jawa yang tidak dalam mengenal budaya Jawa, hehehe… saya artikan seperti ini yah. Intinya, nilai seseorang itu tergantung dari ucapan, apa yang ia kenakan, dan tingkah lakunya.

Buat saya, kata-kata bijak orang Jawa inilah yang membuat dasar bagamana seseorang dihargai orang lain. Seseorang yang memesona adalah seseorang yang punya nilai positif lebih di mata orang lain.

Teman-teman kerja yang saya ceritakan tadi kerap menunjukkan kepada saya, bahwa menjadi berharga dan memesona orang lain itu membutuhkan peran penampilan, kecerdasan pikiran, dan nilai baik kepribadian.

Cantik tapi tingkahnya minus, punya kepribadian baik tapi penampilan diri sendiri tidak kita hargai, orang pun jadi bisa setengah hati berhadapan dengan kita.

Memesona itu menurut saya ketika saya bisa menjadi diri sendiri namun tetap berpikir bagaimana caranya orang lain juga bisa menerima diri saya.

Menjadi diri sendiri bukan berarti saya bisa berlaku semaunya sendiri. Diterima, dihargai, dan memesona orang lain pun bukan berarti saya harus menjadi orang lain yang bukan diri saya.

Tapi saat saya tahu caranya menghargai diri sendiri, saat saya tahu bagaimana caranya diterima dan dihargai orang lain, di situlah saya merasa sudah menjadi sosok yang memesona.

 

Versi film Quantum Leap ala saya, sekarang saya sudah punya kehidupan dengan suami dan seorang anak. Tidak atau mungkin belum lagi bekerja di luar rumah lagi.

Saya tidak tahu apakah Quantum Leap versi saya sudah berakhir episodenya, ataukah episode menjadi ibu rumah tangga kali ini adalah bukan episode terakhir.

Al saya sekarang? Sosok para emak blogger. Sudah ada beberapa nama nih. Lain kali yah ceritanya saya sambung lagi…

 

 

 

 

#MemesonaItu

#MemesonaItu

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

16 thoughts on “#MemesonaItu… Belajar Ilmu ‘Aji’ dari Sosok Teman Kerja

  1. Setuju mbak, memesona memang mempunyai banyak elemen yang menyusun kediriannya. But, saya suka yang multiperan diatas….jadi bisa ngebanyin dulu gimana mbak Ika membagi waktu antara kerja dan keluarga…. gutlak ya…TFS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *