Reporter Belajar Naik Motor

Reporter Belajar Naik Motor

Posted on Posted in Catatan Reporter

Reporter Belajar Naik Motor

Kendaraan seperti motor kerap menjadi andalan bagi para reporter untuk bisa lincah meliput ke mana-mana.

Namun, apa jadinya jika kemudian reporternya tidak bisa naik motor? Tentu saja ada dua pilihan, terus bertahan untuk boros uang dan waktu karena memilih menaiki kendaraan umum, atau mau tidak mau belajar naik motor dan memutuskan memilikinya!

Jujur, saya termasuk yang mengalami dua pilihan tersebut. Saya akui, hingga di awal-awal saya menjadi reporter, saya tidak bisa sama sekali mengendarai motor.

Akhirnya, saya pun kerap harus menerima kondisi tidak mengenakkan karena memilih menaiki kendaraan umum seperti angkutan umum, ojek, atau taksi.

Belum lagi urusan borosnya uang. Jadilah di kemudian hari, saya memutuskan untuk mengambil kredit motor seperti teman-teman saya. Meskipun kondisinya saat itu, saya tidak bisa sama sekali mengendarai motor.

Sebetulnya pernah sih sebelumnya dua kali belajar mengendarai motor dengan diajari oleh adik saya. Namun kesemuanya itu selalu tidak pernah sukses!

Ketika motor yang saya kredit itu datang dan diantar ke kantor, sungguh, selama seharian itu juga saya kebingungan karena berpikir, bagaimana ya caranya membawa motor itu pulang?

Meminta tolong teman satu kamar untuk membawa pun tidak mungkin saya lakukan karena kedua teman saya satu kamar sama-sama telah memiliki motor terlebih dahulu.

Tapi kemudian, saya jadi ingat pesan adik saya seperti ini, “Pokoknya kalau Mbak bisa naik sepeda, berarti ya bisa naik motor. Anggap saja naik motor itu menjaga keseimbangannya seperti naik sepeda biasa,” ujar adik saya.

Akhirnya saya putuskan, malam itu saya harus bisa membawa motor itu sendiri pulang ke rusun tempat saya tinggal yang jaraknya tak sampai satu kilometer dari kantor.

Waktu malam yang larut sekali sengaja saya pilih sembari menunggu kondisi jalan lebih sepi dari kendaraan yang berlalu lalang.

Hingga tibalah saat menegangkan untuk pertama kali dalam hidup saya waktu itu, mengedarai motor sendirian!

Untungnya, sahabat saya Tari yang sekamar dengan saya, bersedia untuk bersepeda motor bersama dan mengawal saya pulang ke rumah.

Teknisnya waktu itu begini, Tari mengendarai motornya sendiri di depan, sedangkan saya di belakangnya mengendarai motor saya sendiri.

Segala teori mengedarai motor saya ingat-ingat sambil dag dig dug bersiap-siap menaiki motor.

Cerita singkatnya, pada akhirnya saya bisa sukses lho naik motor itu sendiri!

Saya girang dong pastinya. Demikian juga Tari yang langsung berwajah sumringah melihat saya yang bisa selamat sampai di tempat tujuan dengan aman tenteram damai.

“Oalah Ka… kayak begini apa ya rasanya kalau punya anak? Deg-degan tahu nggak berkali-kali aku melirik kamu dari kaca spion! Takut-takutnya entar kamu jatuh di jalan. Siapa coba yang mau nolong kalau cuma aku saja,” ujar Tari dengan nada plong.

Aslinya, saat itu prosesnya tidak sepenuhnya lancar lho! Waktu di belokan dekat Polsek Batuampar saja, hampir saya terjatuh.

Waktu itu saya masih dalam kondisi yang tidak bisa mengoperasikan putaran gas di tangan sebelah kanan.

Barulah sampai rusun, saya diberitahu oleh Mbak Ruri jika saya harus mengenolkan gas sebelum memindahkan perseneling gigi motor di kaki kiri. Walah, pantas saja saat itu saya bolak balik terkaget-kaget karena motor saya yang tiba-tiba berjalan seperti orang batuk!
Meski baru malam itu saya bisa dinyatakan 50 persen lebih bisa naik motor, keesokan harinya saya sudah memberanikan diri untuk liputan sambil mengendarai motor.

Padahal, kondisinya motor itu masih belum memiliki plat nomor! Kondisi cara saya yang masih belum lancar mengendarai pun juga tak kalah parahnya.

Tapi, ada satu rahasia yang membuat saya berani dan baru enam bulan kemudian mengalami jatuh pertama kali dari motor.

Saya memang punya kebiasaan hingga satu tahun lebih naik motor dengan terus membaca shalawat! Hehehe… Pesan bertuah dari ibu tuh!

Tapi buktinya, ketika pengalaman jatuh itu terjadi, motor dan tubuh saya tidak sampai parah mengalami kerusakan. Badan hanya sedikit memar, dan tuas daerah perseneleng agak sedikit bengkok dan bisa diluruskan lagi.

Urusan reporter yang baru bisa naik motor ternyata bukan hanya saya sendiri saja lho!

Ada Pak Camat alias Marwah, Junaidi, dan Ferdi, teman satu redaksi  yang juga sama-sama baru belajar naik motor saat jadi reporter.

Dan urusan jatuhnya juga berbeda-beda versi.

Pak Camat mengalami pengalaman jatuh ketika ia meminjam motor milik seorang redaktur.

Tubuhnya sukses terjungkal ke dalam parit ketika sedang mengendarai motor untuk urusan liputan. Untungnya saat itu bajunya hanya basah kuyup dan ia sendiri tidak mengalami luka apa-apa.

Sedangkan Junaidi yang memiliki rumah jauh dari kantor, harus mengandangkan motornya beberapa hari di kantor karena ia sendiri tidak bisa menaiki motornya pulang ke rumah.

Alasannya, ingin belajar dulu dan baru membawa motornya sendiri pulang ke rumah. Meskipun pada akhirnya, sepertinya motor itu dijemput oleh kakaknya untuk dibawa pulang ke rumah.

Sementara untuk urusan jatuh, konon, Jun harus menabrak mobil secara keras yang sedang dalam posisi diam. Kasihan ya mobilnya. Sudah diam tidak bergerak, eh masih ditabrak! *ngakak

Cuma ketika cerita ini dikonfirmasikan, katanya sih, versi jatuhnya tidak sekonyol itu. Namun akibat dari jatuh itu, badan Jun jadi memar, lecet, sampai demam, dan akhirnya tidak bisa meliput di keesokan harinya.

Yang paling parah adalah versi jatuhnya Ferdi. Karena Ferdi tinggal di kawasan ruli atau rumah liar, yang memiliki bentuk jalan sangat tidak beraturan, Ferdi sampai harus tersungkur beberapa kali di tempat yang sama.

Sebetulnya jika siapapun tahu tempat Ferdi tersungkur, mungkin tidak akan menyalahkan Ferdi begitu saja. Atau bisa jadi, juga mengakui kalau ia pun tidak bisa melalui jalan yang seperti dilalui oleh Ferdi.

Mau tahu seperti apa bentuk jalannya?

Ternyata, Ferdi memang harus melalui sebuah jalan dengan kemiringan sekitar 45 derajat yang cukup curam.

Belum lagi jika jalan tanah itu dalam kondisi licin akibat terkena hujan. Dijamin deh, siapapun yang akan melewati jalan itu meski ia seorang pengedara yang handal sekalipun, bisa jadi akan bertanya kemungkinan adanya jalan lain yang bisa dilewati selain jalan itu!

Jadi jangan dikira semua reporter yang beradu dengan waktu untuk urusan liputan dan kerap identik dengan sepeda motor itu lancar jaya semua kehidupannya. Karena di balik itu, ada lho yang ternyata baru bisa naik motor pas baru jadi reporter!

 

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

2 thoughts on “Reporter Belajar Naik Motor

    1. Sebetulnya ada Mbak tunjangan transportasi dan komunikasi. Bagi yang sudah karyawan tetap. Cuma nominalnya sering nggak sebanding dengan kebutuhan di lapangan. Dan kondisi ini sudah jauh lebih baik dari kebanyakan yang ada Mbak. Akhirnya jadilah sering muncul wartawan amplop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *