Reporter Cantik

Reporter Cantik

Posted on Posted in Catatan Reporter

Reporter Cantik

Pertama kali melamar menjadi reporter, busana saya jauh dari kesan cantik.

Yah saya pikir, namanya saja mau jadi reporter. Medianya juga koran. Masa iya dituntut tampil cantik?

Busana kedodoran favorit saya pun kemudian menjadi andalan saya hingga beberapa bulan saya menjadi reporter di Tribun Batam.

Ketika saya berteman dengan Tari dan Uul yang terkenal sebagai reporter yang cantik dan modis, saya masih tetap ada pada pendirian saya untuk mengenakan pakaian yang asal nyaman. Saya tidak peduli bagaimana orang menilainya.

Tapi, lambat laun semua itu berubah mana kala saya sering mendapat tugas untuk meliput urusan kecantikan bersama-sama Tari dan Uul, atau kadang sendirian.

Lama-lama sering malu juga sih mendapat tatapan tidak menyenangkan dari orang-orang yang saya liput itu.

Mungkin, inilah yang ada dalam pikiran mereka kala itu, “Ih, ini meliput urusan gaya, mode, kecantikan, tapi kok yang meliput kayak begini penampilannya. Huh, meragukan! Jangan-jangan nantinya hasil liputannya juga mengecewakan!”

Barangkali seperti itu ya mungkin nada terjemahan dari tatapan para narasumber yang sedang saya liput. Tatapannya itu… Yah, tahu sendiri lah rasanya dilihat orang dengan tatapan menyelidik, nggak nyaman, dan seakan nggak percaya dengan kita.

Akhirnya mau tidak mau, saya berusaha untuk mencoba mengubah penampilan. Mulai tampil modis, cantik, wangi, rapih, meski terkadang masih suka kumat dengan gaya penampilan sebelumnya.

Eit, tapi gaya berbusana seenak saya itu akhirnya tetap saya pakai ketika tidak sedang ada urusan liputan dan hanya cukup mengetik di kantor saja.

Fuih, rasanya tampil cantik itu tidak membuat saya betah! Apalagi di kantor saya waktu itu, terutama ruang redaksi, baik perempuan maupun yang laki-laki, kerap suka bertingkah usil bila ada dari kami yang berpenampilan wah atau segar dari biasanya.

Pakai kemeja cantik dan modis saja, sudah mendapat suitan dan digoda macam-macam.

Bahkan hanya mengenakan pelembab bibir berwarna merah tipis, orang-orang di ruang redaksi sudah sensitif lho matanya dan langsung menangkap hal yang berbeda!

“Duh, cantik banget nih hari ini!” demikian beberapa dari kru redaksi akan mendekati kami dan sejenak membelalakkan mata dengan sengaja usil ke arah wajah kami.

Karena itulah terkadang, saya dan teman-teman reporter wanita seperti Tari, Uul, atau Menik, akan menyiasati dengan cara mengganti baju terlebih dahulu di rumah sebelum berangkat ke kantor untuk mengetik berita.

Karena jika tetap mengenakan baju cantik, formal, berwajah segar dengan olesan sedikit pelembab bibir berwarna, wah… alamat, siap-siap deh tidak bisa tenang saat mengetik berita di komputer masing-masing!

Selalu ada saja yang mampir untuk usil komentar.

Dari sekian reporter cewek di kantor saat itu, memang Mbak Ruri yang tetap konsisten dengan dirinya sendiri dan merasa tidak perlu untuk tampil cantik a la wanita feminim.

Namun, ke-tomboy-an Mbak Ruri ini juga kerap membuatnya pusing saat mau tidak mau harus meliput berita kecantikan untuk edisi mingguan yang terkadang beberapa kali dikenakan tanggung jawab kepadanya dari pihak redaktur.

Misalnya kala harus mewawancara tentang urusan make up. Mbak Ruri waktu itu paling pusing dengan istilah blush on atau eye shadow.

Untungnya, sang narasumber berkenan sabar dan berbaik hati untuk menjelaskan terlebih dahulu mana yang blush on dan mana yang eye shadow.

Beda Mbak Ruri, beda dengan Tari dan Uul. Dua reporter yang sering terkena liputan kecantikan ini malah kerap jadi model untuk liputannya sendiri.

Biasanya jika sedang liputan ke salon untuk berita tentang perawatan wajah dan tubuh, pihak fotografer kerap menjadikan Tari dan Uul sebagai modelnya yang notebene juga reporter yang meliput.

Uniknya, bahkan ketika Tari atau Uul yang memegang kamera sendiri, alias liputan tanpa mengajak fotografer, wajah atau bagian tubuh mereka pun menjadi bagian dari foto yang akan digunakan untuk bahan melengkapi berita.

Walhasil ketika berita dan foto tersetor ke redaktur, keterangan fotografernya nama mereka, tapi modelnya pun mereka sendiri juga. Nah lho, bingung kan?

Jika sudah begitu, tentu saja reporter lain, pihak layouter, atau redaktur yang jadi kebingungan.

“Lho, ini nama fotografernya nama kalian. Kok modelnya kalian juga? Lha, yang ngambil foto terus siapa?” celutuk iseng dari beberapa kru redaksi.

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

2 thoughts on “Reporter Cantik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *