imsusanti dot com

Punya Blog TLD dan Selfhosted, Apa Enaknya Sih?

Posted on Posted in Review Produk

Punya Blog TLD dan Selfhosted, Apa Enaknya Sih?

 

Berstatus punya dua blog, dua-duanya TLD dan selfhosted itu kok rasanya ngegaya betul ya?

(*ketawa ngikik a la Mak Lampir)

Iya, saya punya dua blog TLD dan selfhosted lho. Yaitu yang ini, di imsusanti dot com dan di mamakhebring dot com.

Blog yang sedang kalian baca ini isinya sebetulnya pindahan dari ikapunyaberita dot wordpress dot com.

Blog itu dulu banget saya buat sekitar tahun 2006, saat masih kerja di Tribun Batam.

Waktu pas jadi reporter di sana, saya pegang edisi mingguan. Yang keluar hari Sabtu untuk segmen anak muda dan yang keluar hari Minggu untuk segmen wanita dan keluarga.

Beberapa waktu melakoni posisi tersebut, saya lihat isi folder kumpulan hasil liputan saya.

Terus mikir, eh, kok jumlah tulisannya lumayan ya? Kok kayaknya ini bisa jadi tulisan yang seharusnya bisa dibaca lebih banyak orang se Indonesia ya?

Jadilah saya buat blog di wordpress. Dasarnya dari lihat beberapa teman di Yahoo mailing list Jurnalisme yang kelihatannya keren punya blog di wordpress.

Beruntungnya saya punya blog di sana, karena tak lama kemudian Multiplay berulah dengan menutup layanan blog gratisan.

Untung benar deh rasanya karena saya tidak memilih memposting banyak tulisan di sana!

Enaknya di WordPress itu saya nggak perlu pusing-pusing ngublek bahasa html. Pengoperasionalannya simpel.

Urusan tampilan blog? Saya sendiri bukan tipe orang yang suka punya blog dengan tampilan banyak pernak-pernik hiasan.

Konon katanya, wordpress dot com memang diciptakan untuk mereka yang lebih menekankan pada kualitas tulisan untuk dibaca.

Jadilah saya merasa klop dengan si wordpress dot com!

Lama bener lho saya dan wordpress dot com ini saling setia. Hingga 2016. Tuh, 10 tahun!

Tapi saat saya sedang sok-sokan ingin terjun di dunia Google Adsense itulah ceritanya bermula hingga akhirnya saya sampai punya dua blog.

Bisa dibilang, proses punya dua blog TLD dan selhost itu kayak saya lagi terjun bebas dari atas pesawat, meninggalkan pesawat yang bernama wodpress dot com, tapi saya tidak menyiapkan parasut dengan baik.

Jadi begini ceritanya…

 

Terobsesi Google Adsense

Saat kegilaan berikut ambisi saya terjun di Google Adsense, yang konon katanya kalau bisa sukses di sana dapat pendapatan hingga puluhan bahkan ratusan juta, hampir tiap hari bacaan saya adalah postingan para anggota grup Facebook Google Adsense Indonesia.

Nah, dari hasil baca-baca itu, saya dapat sesuatu nih. Sambil manggut-manggut, saya bilang ke diri sendiri, “Oh, jadi kalau mau sukses di Google Andsense, saya harus punya blogspot ya? Terus nichenya harus spesifik ya? Kalau mau sukses, harus punya banyak blog ya?”

Lalu jadilah saya bikin beberapa blog di blogspot.

Ada yang niche alias jenis blognya saya buat khusus tentang personal story, ada yang untuk parenting, ada yang review produk, dan ada yang tentang pendidikan.

Nih lagi-lagi judulnya ngegaya banget deh! Lha bayangin saja, empat blog lho! Kapan ngerjainnya?

Simpel banget pikiran saya waktu itu. Ya tinggal ambil saja dari ikapunyaberita dot wordpress dot com yang isinya gado-gado dari beberapa niche.

Di blog ikapunyaberita dot wordpress dot com, tabungan tulisan saya di sana banyak yang tentang dunia wanita dan keluarga. Hasil dari liputan waktu zaman jadi reporter.

Tulisan-tulisan itu yang lalu saya posting di blog yang nichenya woman dan parenting.

Blog itu saya namai Mamak Hebring. Maksudnya, saya ingin blog ini bisa dibaca oleh para wanita berkeluarga biar bisa jadi perempuan yang keren. Alias hebring.

Atau harapan saya, blog Mamak Hebring ini bisa jadi tempat kumpulnya para mamak yang hebring bin keren. Kan kalau kumpul sama para orang keren, sayanya bisa kecipratan…

Sek ta, ada yang tahu istilah hebring ini sebetulnya dari mana sih? Hihihi, saya hanya ingat tokoh Bu Hebring di film zaman baheula dulu, yang kalau nggak salah di TVRI ya? 😀

Lalu blog yang nichenya personal stories, saya isi dengan tulisan berbagai pengalaman saya waktu liputan.

Sampai saat ini, saya memang masih menyimpan naskah buku yang berisi kumpulan berbagai cerita pengalaman waktu liputan.

Kalau blog yang nichenya tentang pendidikan, saya isi dengan berbagai pengalaman saya waktu mengajar di PAUD dan mapel ekonomi di SMA.

Sedangkan blog berniche review produk, kepikiran saya untuk wadah berbagai tulisan review aneka macam produk.

Endingnya bisa sedikit ditebak, saya kewalahan mengisi blog-blog tersebut.

Meski dikata judulnya tinggal memindah tulisan dari blog lama, ya tetap saja kan saya harus edit sana sini dulu.

Niat hati mengisi postingan sehari satu tulisan di tiap blog pun bubar jalan!

Lha orang sayanya cuma punya waktu nulis malam hari.

Itupun dengan banyak pesan sponsor di antaranya: anak yang terbangun nangis minta ASI, kegerahan lalu sibuk garuk-garuk karena gatal-gatal, digigit nyamuk, dan sebagainya.

Yang sering terjadi kemudian, pas nge-ASI, sambil tiduran, lalu jadilah kebablasan tidur.

Wassalam…

 

Nggak Ngerti Bedanya Domain dan Hosting

Belum kelar nemu solusi ‘memberi makan’ empat blog yang diternakkan dan berstatus kurang makan alias jarang diisi postingan, saya menemukan hal baru lagi di grup Google Adsense Indonesia.

Kata-katanya orang-orang di sana tuh, yang sering disebut dengan panggilan mastah, bagusan kalau mau mengajukan Google Adsense, pakai blog yang TLD, alias domain sendiri.

Sambil manggut-manggut lagi, saya mikir, gimana caranya ya?

Waktu saya amati beberapa blog teman yang embel-embelnya sudah dot com, nggak ada lagi ekor wordpress atau blogspot, saya mencoba cari tahu di mana mereka bisa punya blog seperti itu.

Blog yang kataya sudah TLD.

Lewat grup Blogger Perempuan, saya menemukan nama Dewaweb. Katanya, kita bisa beli domain di situ biar blog kita jadi TLD.

Saya buka Dewaweb. Pas buka halaman depannya, ada tulisan Cloud Hosting untuk Personal.

Saat saya klik, saya ditawarkan empat macam paket.

Coba-coba, saya pilih paket yang paling kecil. Paket Scout.

Lalu untuk nama domainnya, saya pilih mamakhebring. Dalam pikiran saya, coba deh saya tekuni dulu blog yang nichenya parenting.

Setelah urus sana-sini, dalam hitungan beberapa jam, pada suatu dini hari, resmilah saya punya blog bernama mamakhebring dot com.

mamakhebring dot com

Kemudian saya browsing, gimana caranya mensinkronkan blogspot saya dengan hasil belanja di Dewaweb.

Setelah ketemu caranya, nyoba utak-atik sendiri, dan tada… beres sudah blog saya di mamakhebring dot com.

Tapi beberapa jam kemudian, saya menyadari ada yang aneh. Ini blog kenapa nggak keindeks Google Webmaster ya? Biasanya kan cepat?

Sampai seharian saya mumet utak-atik itu blog. Tanya ke forum sana-sini. Hasilnya nggak ada yang bisa menyelesaikan masalah saya.

Waktu saya tanya ke admin Dewaweb yang punya julukan para ninja, admin yang melayani keluhan saya tanya, ini hostingnya di mana?

Tung tang ting tung. Saya bingung ngejawabnya. Hosting? Maksudnya apa ya?

*mari dengarkan backsound suara jangkrik

 

Posisi Rumah dan Nama Rumah Itu Beda Lho Rek!

Buat yang ngerti gimana ke-oon-an saya waktu baca cerita tadi, saya harap tidak sampai pada pipis di celana ya…

Dan buat yang nggak nyadar, nggak apa-apa. Saya yang sekarang sudah sok ngerti ini nggak akan menertawakan kok.

Karena saya menuliskan semua ini agar tidak ada lagi orang yang dudul seperti saya, nggak ngerti bedanya domain sama hosting tapi sudah ngegaya beli selfhosted dan domain.

Ya… selain buat tulisan yang menghibur kalian juga sih *ngeles

Buat yang belum ngerti, jadi begini nih…

Dalam dunia perbloggingan yang saya pahami sampai sekarang, ada beberapa istilah yang sepertinya memang harus dimengerti oleh para blogger pemula.

Istilah-istilah tersebut antara lain: niche, hosting, TLD, selfhosted atau self hosting, dan domain.

Niche itu maksudnya jenis atau tema blognya. Seperti di mamakhebring dot com, nichenya parenting.

Kalau niche yang populer di kalangan blogger antara lain niche travelling, life style, techno, keuangan, pendidikan, dan sebagainya.

Hosting itu ibarat rumah. Kalau blog kita gratisan, berarti blog kita hosting di blogspot dot com atau wordpress dot com.

Jadi kalau ada blog namanya mamakhebring dot blogspot dot com, berarti blog itu hosting atau rumahnya di blogspot dot com.

Tapi bisa juga blog kita naik status jadi TLD alias Top Level Domain.

Tanda-tandanya, blog tersebut hanya punya nama lalu di belakangnya diikuti dot com, dot co dot id, dot net, dan sebagainya.

Kalau blog kita asalnya di blogspot dot com atau wordpress dot com dan mau diubah jadi TLD, ada caranya.

Cara pertama, kita bisa pakai jasa freenom. Sebetulnya saya kurang paham juga yang tentang freenom ini.

Konon katanya sih blog kita bisa jadi TLD tapi gratis di tahun pertama. *CMIIW ya

Embel-embel di belakangnya bisa dot tk, dot me, dan beberapa yang lain.

Cara ke dua, kalau blog kita di blogspot atau wordpress dot com, kita bisa meningkatkan status blog jadi TLD dengan bayar ke mereka.

Alias nggak gratisan lagi.

Kompensasinya, blog kita jadi nggak punya embel-embel blogspot atau wordpress.

Jadinya tinggal nama blog, lalu di belakangnya jadi dot com.

Cuma kalau cara ini, kita harus bayar pakai dolar.

Cara ke tiga, kalau blog kita di blogspot, kita bisa beli domain. Salah satu tempat belinya ya di Dewaweb.

Domain bisa dibilang nama blog kita.

Nanti blog kita bisa jadi TLD, tapi tempatnya tetap di blogspot.

Cuma cara ini nggak bisa dipakai kalau blog kita wordpress dot com.

Cara ke empat, kita sewa hosting ke tempat lain dan meninggalkan blogspot dot com atau wordpress dot com.

Inilah yang disebut selfhosted.

Di Dewaweb, kita bisa beli paketan selfhosted dan gratis nama domain.

Selfhost di Dewaweb

Seperti yang telah saya lakukan waktu itu dalam kondisi dudul, saya sewa hosting di Dewaweb, dan gratis bisa punya nama domain.

Nanti kita banyak dibimbing lewat email. Dikasih cara akses ke cPanel berikut passwordnya.

Kalau mau ngurus sendiri, kita bisa lihat dari tutorial Youtube yang dikasih para admin.

Tapi para adminnya Dewaweb juga baik hati kok.

Mereka mau ngebimbing kita juga yang mungkin bingung meski sudah lihat bagaimana mengaktifkan blog kita lewat cPanel.

Seperti waktu itu. Saat saya sampai salah sudah mengaktifkan domain tapi rumahnya masih blogspot dan nganggurin hosting yang sudah saya beli, saat saya salah mengaktifkan cPanel hingga blog saya jadi mamakhebring dot com tapi pakai embel-embel slash wp, para admin yang saya mintai tolong mau membereskan.

Pokoknya saya terima beres, dan para admin Dewaweb lalu bikin saya akhirnya beneran punya blog TLD, selfhosted, dengan nama mamakhebring dot com. *fuih!

Oh iya, kalau kita punya blog selfhosted, identiknya kita akan bersentuhan dengan yang namanya cPanel dan wordpress dot org.

Lewat cPanel, kita bisa mengontrol kapasitas ‘rumah’ kita, bisa tahu berapa banyak jatah kuota di blog kita tersebut.

Kalau wordpress dot org, ini memang mirip dengan wordpress dot com. Segala pengoperasiannya hampir 100 persen deh.

Nah, kalau awalnya rumah blog kita di blogspot dot com atau wordpress dot com, kita bisa kok eksport import segala yang ada di blog lama ke blog baru kita yang sudah TLD dan selfhosted itu.

Jadi kalau yang isi blog lamanya sudah banya, nggak perlu mumet mindahin satu per satu isi blog lama ke baru.

 

Enak Nggak Enaknya Selfhost? Banyakan Enaknya Kok !

Buat yang sedang menghitung dan menimbang mau TLD dan selfhosted, yuk saya kasih tahu based on my own story ya…

Enakan sih saya kasih tahu nggak enaknya dulu. Best for the last ya yang enak-enaknya apa saja.

Nggak enak yang pertama, mungkin agak ribet waktu awal ngutak-atik cPanel.

Tapi seperti cerita saya tadi, tenang saja… Itu kalau selfhosted-nya di Dewaweb. Ada para admin alias ninja yang akan siap membantu. 24 jam non stop lho!

Beneran. Karena dari pengalaman saya sendiri, selama ngublek blog yang kebanyakan di waktu jam begadang, para ninja ini GPL alias nggak pakai lama kok kalau dipanggil.

Tapi kalau lagi sibuk, kita bisa kirim tiket support ke mereka. Nggak sampai 24 jam, bahkan kayaknya sih nggak sampai 12 jam, masalah kita langsung kelar.

Nggak enak yang ke dua, hehe, bayar bo’!

Emang sih, kalau selfhosted, harganya agak lebih mihil dari pada kalau kita beli domain saja.

Tapi ibarat ada harga, ada rupa. Blog yang selfhosted itu bikin kita ibaratnya nggak sampai takut kalau-kalau diusir paksa sama yang punya rumah.

Lha kan kita ngontrak ke mereka. Maksudnya ke blogspot dot com atau wordpress dot com.

Kalau sampai ada hal yang mereka rasa blog kita itu menyalahi aturan mereka, ya siap-siap saja ditutup akun blog kita sama yang punya rumah.

Nggak enak yang ke tiga, kalau punya selfhosted atau blog kita baru TLD, tentunya blog kita dikasih waktu dulu kenalan sama mesin pencari Google.

Ibaratnya, blog kita nggak bakal langsung cepat dikenal Google.

Kalau mau mempercepat, rajin posting saja setiap hari atau terjadwal secara rutin.

Lalu, apa enaknya selfhosted kalau versi saya?

Saya sih suka sama yang namanya segala kemudahan menggunakan plugin.

Mau tulisan nggak gampang dicopas, tinggal cari plugginnya apa dan install.

Biar tulisan kita bisa punya kemungkinan besar ada peringkat atas mesin pencari Google alias SEO, tinggal cari pluginnya dan install.

So simple! Saya nggak perlu ngublek segala bahasa pemrograman.

Buat orang kurang teliti kayak saya, yang kayak beginian ini penting.

Lha kurang satu garis slash atau kebanyakan satu saja pas kita ngoprek html, maksud tujuan kita alamat nggak kesampaian.

Desain-desain tampilannya wordpress dot org juga bagus-bagus. Kita cuma perlu sedikit utak-atik saja.

Terus, blog selfhosted ini punya ciri memudahkan orang yang mau komentar di tulisan kita.

Yang komen tinggal menambahkan tulisan namanya, alamat emailnya apa, dan alamat blognya apa. Nggak perlu pakai captcha segala.

Terus kalau di Dewaweb, kalau ada kemungkinan yang bisa membahayakan blog kita, adminnya akan member tahu lewat email.

Biasanya kasusnya tentang pemberitahuan agar kita mengupdate plugin atau tema blog kita.

Overall, kalau saya sih puas dengan pelayanan Dewaweb.

Buktinya blog yang ini, imsusanti dot com, belum sampai setahun selfhosted di Dewaweb, status paketnya sudah saya naikin jadi Hunter.

Hihihi, soalnya pindahan dari blog lama sih. Jadi rumahnya kalau di paket Scout sudah nggak muat.

 

Tertarik Selfhosted di Dewaweb?

Dewaweb

Kalau dirasa tertarik sih, monggo saja klik tulisan DEWAWEB ini.

Buat yang punya pengalaman hosting di Dewaweb, juga monggo banget kalau mau menambahkan di kolom komentar tulisan ini yah.

 

 

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat

36 thoughts on “Punya Blog TLD dan Selfhosted, Apa Enaknya Sih?

  1. tulisan ini mewakili apa aku alami dan yang aku pikirkan. haha, jadi inget dulu pertama migrasi dari wordpress.com ke self hosted.

    belajar memanage semuanya seorang diri, mulai dari adjusting template, sampai yg paling ngeri waktu webnya diserang dengan traffic sampai 8GB dari china.

    btw, welcome on board mbak..

  2. ini paid posting dari dewaweb ya buk? $$$ kikikik
    atau ikutan lomba? waaahh, asik asik. 😀

    TLD dan selfhosted emang keren, apalah daya blog saya yang cuma irisan martabak yang tercecer, wkwkwk XD

  3. Walau belum, tapi saya harus banyak baca2 info juga ttg selfhosted seperti post ini, mba. Karena ya siapa tau, untuk kebutuhan, saya harus menggunakan juga. Ini pembahasannya enak, mba. Mudah dimengerti buat saya yang lemot ini, haha… Makasih ya, mba.

  4. Hai Mba Ika salam kenal yaa 🙂 Aku baru berkunjung ke sini hehe.. Aku pun punya 2 blog tld mba, satu traveling kuliner keluarga, satunya lagi parenting. Tapi yg parenting masih blum gitu sering update hiks.. Eh aku baru tau kalo blogspot bisa selfhosted ya.. Masih kurang paham nih mba sama yg gitu2 hihi..

  5. Ya ampun.. ternyata aku ikutan dudul juga.. aseli baru ngerti yg begini2an dan aseli juga ngerasa nemu yg senasib karena ga ngerti html dsb..hehehe.. etapi udah gak senasib ding, kan mba uda ngerti semuanya.. lah sy baru tau.. wkwkwkwk.. salam kenal mba dari banjarmasin

  6. Saya mau mengganti yang WordPress tadinya Mak, eh malah suruh bayar $ 13 + $ 30. Padahal udah beli domain sendiri $ 10. Jadi pindah deh ke Blogspot. Kemahalan segitu pertahub mah. Belum termasuk hostingnya loh.

  7. Kelebihan hos dewe (selfhosted) itu hati kita jadi nyaman. Ibarat punya kendaraan, sudah jadi hak milik. Beda dengan yang lain, statusnya masih pinjaman.

    Cuma yah itu, kalau gak kuat bayar, bisa-bisa tutup blognya.

  8. Kalau aku awalnya beli domain dan hosting di Indonesia, terus berniat mindahin seluruh posting dari blog WP.com ke domain baru plus komentar dan foto foto. Eh, ternyata, proses migrasi ga berhasil. Ga bisa migrasi semuanya. Kalau mau bikin Blog baru, ya sayang yang lama udah banyak pembaca. Pengin dah jd branding belalangcerewet.com.

    Males juga otak-atik cpanel hehe. Setahun kemudian aku beli lagi domain yg sama, tapi hosting masih numpang di WordPress. Pas promosi domain sih, jd murah. Terus tinggal bayar mapping 13 dolar ke WP. Sejam kemudian, belalangcerewet.com resmi mengudara. Tak perlu bikin Blog baru di WP.org atau blogspot.

    Asyik deh sekarang tenang, dah ga pusing mikirin cpanel. Hihihi. Hosting numpang aja ma WP, biar praktis. Tapi risikonya jadi ga bisa pasang plugin ini itu kayak WP.org, termasuk ga bisa dimonetize buat Adsense. Gapapa, abis itu, bikin Blog baru di blogspot dg niche khusus buat didaftarkan ke Adsense. Entah kapan hehe. Konsisten ngisi dulu aja.

    Ya gitu deh, ternyata Ika orang Lamongan juga. Jarang nemu Blogger Kota Tahu Campur. Semoga blognya makin rame dan bisa menghasilkan pundi-pundi dolar….

    1. Oalah, saya kirain kalau upgrade ke Wp.com hosting di Wp.com, bisa juga pasang plugin ini itu. Ternyata nggak ya Pak? Bener tuh Pak. Waktu itu saya juga sempat sedih karena pembaca di Wp.com sudah banyak. Apalagi sudah 10 tahun umur blog tersebut.

  9. TLD kalau karakter blognya nggak kuat juga nggak kelihatan sih. Blog2 yg bagus kebanyakan nggak tiap hari juga ngeblognya. Rata2 1-3x seminggu aja tapi sekali posting artikelnya in depth banget, jadi nggak kelar2 dishare orang lain.
    Btw kok sepertinya aku baru sekali kesini ya? Maaf ya, berarti kurang jalan2. 🙂

    1. Iya Mbak bener… Saya baca di panduanim juga gitu. Kalau sekalinya bikin kontennya bagus, itu malah lebih baik. Hehehe, makasih Mbak sudah main ke sini. Sayanya yang jarang ngerawat blog ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *